Rabu, 20 Agustus 2014

. MITRA KERJA GLOBAL DALAM PROMOSI KESEHATAN WANITA DAN KELUARGA USIA SUBUR

1. International Confederation of Midwives

Konfederasi Bidan Internasional (International Confederation of Midwives, ICM) adalah federasi asosiasi kebidanan sedunia, yang berfungsi sebagai kesatuan yang mandiri atau sebagai kelompok otonomi dalam organisasi lain, mis., kelompok perawat atau dokter. Semua asosiasi kebidanan ini memilih untuk bergabung bersama untuk meningkatkan dan memperkuat kebidanan dalam upaya mencapai kesehatan wanita dan keluarga usia subur di seluruh dunia. ICM adalah organisasi satu-satunya yang terdiri atas asosiasi kebidanan, yang secara formal diakui oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai sebuah organisasi non-pemerintah (NGO). ICM menerima akreditasi pertamanya dari PBB pada awal tahun 1960-an. Misi resmi ICM, seperti yang dinyatakan pada tahun 1993, adalah “mengembangkan tujuan dan aspirasi bidan di seluruh dunia untuk mendapatkan hasil-akhir yang lebih baik bagi wanita selama masa usia subur mereka, bagi bayi baru lahir, dan keluarga mereka di manapun mereka berada” [International Confederation of Midwives. Mission Statement 1993. London: ICM]. Dari awal yang sederhana pada awal tahun 1900-an, pada tahun 2002 ICM beranggotakan lebih dari 80 asosiasi kebidanan yang berasal dari lebih dari 70 negara, yang mewakili sekitar 500.000 bidan di seluruh dunia [International Confederation of Midwives. Personal correspondence from ICM headquarters on member data, August 2002].

a. Sejarah

Bidan dan praktik kebidanan telah bertahan hidup selama bertahun-tahun tanpa pendidikan, peraturan, dan standar praktik kebidanan yang formal, atau tanpa pengembangan suatu struktur organisasi pada tingkat local, nasional, ataupun internasional. Kebidanan adalah, dan akan terus menjadi, sebuah pelayanan kesehatan yang sangat vital untuk para wanita selama waktu yang paling rentan dalan kehidupan mereka – yakni ketika mereka mengandung dan membesarkan anak-anak. Namun, hingga awal abad ke-20, hanya beberapa negara (di antaranya Finlandia, Prancis, Jerman, Belanda, dan Swedia) telah memiliki program pendidikan yang canggih bagi para bidan dan mengatur praktik kebidanan. Sebagian besar negara lain “puas dengan menyerahkan proses perawatan persalinan kepada pelaksana tradisional yang keterampilannya diwariskan dari generasi ke generasi melalui beberapa bentuk kerja” [International Confederation of Midwives. Milestones in International Midwifery. London: ICM, 1994].

Pada akhir abad ke-19, negara-negara industry semakin menaruh perhatian pada angka kematian wanita dan anak-anak yang tinggi serta kesehatan mereka yang umumnya buruk. Pembuat kebijakan, politikus, dan pejabat kesehatan masyarakat berupaya keras mencari cara untuk meningkatkan kesehatan wanita dan bayi, kendati untuk berbagai alasan (termasuk di dalamnya harapan untuk menggalang kekuatan kerja yang cerdas, merekrut pasuka yang sehat, dsb.) yang sering kali tidak mengesampingkan pentingnya wanita melampaui kapasitasnya sebagai makhluk hidup yang bereproduksi. Pada saat yang sama, ketika kesadaran terhadap status kesehatan wanita usia subur yang buruk banyak dibicarakan, banyak bidan menyadari bahwa mereka harus meningkatkan standar pendidikan dan kondisi pekerjaan mereka jika mereka ingin bertahan dalam system perawatan kesehatan dan perawatan penyakit yang terus berkembang. Kebidanan Eropa merupakan kebidanan yang terkuat dan terus berjuang pada abad ke-20. Landasan ICM kemudian mengakar pada kebidanan Eropa di awal tahun 1900-an. Di belahan dunia lain, para bidan menemukan bahwa praktik kebidanan mereka dibatasi hanya pada kelompok pendatang di antara mereka sendiri. Dengan kata lain, mereka tersingkir akibat peningkatan jumlah dokter yang pesat dan tajamnya perjuangan dokter untuk memperoleh pengakuan dengan cara meremehkan pentingnya peran bidan dalam perawatan wanita usia subur [International Confederation of Midwives. Milestones in International Midwifery. London: ICM, 1994].

Beberapa hal mengancam praktik kebidanan tradisional di banyak negara, di antaranya institusionalisasi cepat untuk melahirkan setelah Perang Dunia I, penurunan drastic angka persalinan, dan jumlah dokter yang terus meningkat. Kebutuhan untuk bekerja sama lewat lingkaran nasional dan budaya sangat mendesak sehingga kebidanan Eropa kemudian membentuk Persatuan Bidan Internasional (International Midwives Union, IMU) pada tahun 1919. Pertemuan setiap dua sampai tiga tahun di Eropa, para anggota IMU memperdebatkan isu yang selalu muncul, seperti: tempat persalinan, pengembangan peran kebidanan tradisional melampaui perawatan usia subur, metode peredaan nyeri yang aman bagi wanita, dan cara meningkatkan standar pendidikan dan praktik kebidanan, dan kondisi kerja bagi bidan. Perang mengganggu pertemuan IMU, dan banyak catatan penting hilan selama Perang Dunia II [International Confederation of Midwives. A Birthday for Midwives: Seventy-five Years of International Collaboration, 1919-1994. London: ICM, 1994]. Pada tahun 1954, International Confederation of Midwives “yang terlahir kembali”, yang bermarkas di London (sampai tahun 2000), menjangkau hingga ke Eropa. Bidan di seluruh dunia mulai menyadari pentingnya berbagi informasi dan bekerja sama untuk meningkatkan kondisi wanita dan keluarga usia subur sembari memperkuat profesi kebidanan [International Confederation of Midwives. Milestones in International Midwifery. London: ICM, 1994].

b. Tujuan dan Sasaran

Sasaran utama ICM ialah “memperbaiki standar perawatan yang diberikan kepada ibu dan bayi mereka di seluruh negara, jika diperlukan, mendukung dan menyarankan asosiasi bidan yang bekerja sama dengan pemerintah mereka; meningkatkan penyediaan perawatan maternitas; dan mengembangkan penyediaan perawatan praktisi professional dengan haknya sendiri” [International Confederation of Midwives. Constitution and Byelaws (revised). Adopted by ICM Council in Manila, 1999]. ICM juga memperkenalkan kebidanan kepada badan dan lembaga internasional, lewat pertemuan atau konsultasi, atau lewat hubungan langsung dengan kepala atau badan yang mengatur organisasi tersebut. Semua aktivitas ICM ditujukan pada hanya satu tujuan: mengupayakan penurunan angka kematian dan kesakitan ibu dan bayi baru lahir [International Confederation of Midwives. A Birthday for Midwives: Seventy-five Years of International Collaboration, 1919-1994. London: ICM, 1994; and International Confederation of Midwives. Constitution and Byelaws (revised). Adopted by ICM Council in Manila, 1999] juga meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan remaja puteri dan wanita sepanjang rentang hidupnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar