Selasa, 18 November 2014

American College of Nurse-Midwives

American College of Nurse-Midwives (ACNM) memiliki orientasi internasional yang kuat sejak awal pembentukannya. Para pendirinya terutama berasal dari tradisi kebidanan Eropa. Lulusan pertama sekolah kebidanan ini sering kali pada akhirnya berperan sebagai misionaris di seluruh dunia. Sejumlah besar anggota ACNM memiliki pengalam kerja di seluruh dunia dan mampu berbahasa asing.

Perhatian terhadap kesehatan internasional dapat ditemukan dalam dokumentasi resmi ACNM. Salah satu sasarannya ialah “memantapkan ACNM sebagai pemimpin nasional dan internasional dalam rangka meningkatkan perawatan kesehatan secara optimal bagi ibu dan anak-anak” [American College of Nurse-Midwives. Statements of Goals #6. Web site www.acnm.org]. ACNM juga memiliki riwayat panjang keterlibatan aktif dalam International Confederation of Midwives. Federasi ini sering kali memperlengkapi keterampilan kepemimpinan para anggotanya dengan memberi kesempatan berperan sebagai Perwakilan Regional atau masuk dalam jajaran Dewan Manajemen.

Pada akhir tahun 1970-an Bonnie Pedersen, seorang visioner CNM, prihatin bahwa bidan tidak memperkuat praktik kebidanan di seluruh dunia dengan cara saling membantu. Dalam permintaannya untuk mendapatkan “bidan membantu bidan”, ia melihat sebuah tempat untuk melakukan proyek internasional, yang kemudian menjadi ACNM pada tahun 1981. Dana yang pertama ditujukan untuk International Project for Traditional Birth Attendants (TBA) pada tahun 1982.

Selama lima tahun pertama, Deborah Armbruster dan Gilberte Vansintejan bergabung dengan Pedersen dan kelompok mereka melakukan pengkajian yang luas terhadap kebutuhan, pelatihan TBA, dan mengembangkan materi pelatihan dalam berbagai bahasa. Ketika proyek-proyek yang didanai meluas hingga mencakup pendidikan kebidanan lanjutan dan pendidikan kebidanan prapraktik, namanya kemudian diubah menjadi ACNM Special Project Section sehingga mencerminkan ruang lingkup kerja yang telah mengalami perkembangan di segala aspeknya. Sebagian besar pekerjaan dilakukan untuk menyatukan program kelaurga berencana ke dalam praktik bidan Afrika Utara, yang bermodalkan pendidikan tradisional yang tidak mengenal program keluarga berencana.

Pada awal tahun 1990-an, setelah Magaret Marshall di Ghana melakukan dua penelitian tentang angka kematian ibu, Special Projects Section mulai memasuki era sejumlah proyek Safe Motherhood. The Life-Saving Skills Manual for Midwives [Costello, A. State of the World’s Newborns: A Report from Saving Newborn Lives. Washington, DC: Save the Children, 2001] dibuat, kemudian dikembangkan di Ghana, dan diajarkan di Nigeria, Uganda, Indonesia, Vietnam, kemudian di negara-negara lain lewat bantuan ACNM dan lembaga lain. Manual ini juga telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Tahun 1990-an juga membawa sejumlah kesempatan baik yang memungkinkan kerja sama dengan asosiasi kebidanan kesusteran. Mereka berupaya memperkuat institusi dan melanjutkan pendidikan para anggota. Setelah bertahun-tahun, hubungan dengan asosiasi kebidanan nasional di Ghana, Uganda, dan Indonesia berkembang hingga tahap bermakna. Lewat upaya membangun keterampilan kebidanan, saat ini semua asosiasi ini berada pada posisi untuk menerima banyak proyek yang didonasi para pemberi bantuan sehingga dapat memfokuskan perhatian pada para negara anggotanya dalam mengembangkan kebijakan, melanjutkan pendidikan, dan menciptakan proyek pelayanan maternitas yang dijadikan model.

Pada pertengahan tahun 1990-an, ACNM mengembangkan diri ke dalam arena domestik. Proyek yang dikerjakan berfokus pada kebutuhan para anggota ACNM akan pendidikan lanjutan tentang tindak kekerasan di dalam rumah. Tatkala pengembangan ke dalam proyek domestic ini mengalami kemajuan dan kerja ACNM menjadi semakin jelas, Special Project Section mengubah namanya pada tahun 2000 menjadi ACNM Division of Global Outreach. Saat ini, keiatan Division of Global Outreach sekitar 80% menjangkau lingkup internasional dan 20% mengatur hal-hal domestic. Proyek dalam lingkup internasional terdiri atas Keterampilan Penyelamatan Hidup, Keterampilan Penyelamatan Hidup di rumah, perawatan pascapartum dan pascaaborsi, pengembangan asosiasi kebidanan, keluarga berencana, penularan HIV dari ibu ke anak, perawatan maternitas-berpusat keluarga, dan tindak kekerasan dalam rumah tangga. Setelah 20 tahun pertama upaya yang dilakukan ACNM berhasil melibatkan lebih dari 30 negara, mempekerjakan kurang lebih 20 staf CNM, dan lebih dari 40 CNM sebagai konsultan. Visi “bidan menolong bidan” telah menjadi nyata [Armbruster, D., Buffington, S. T., and Vivio, D. Personal communication, February 2002].

Federasi Ginekologi dan Obstetri Internasional (FIGO)

Salah satu kelompok kesehatan professional yang memiliki perhatian yang sangat besar dan keahlian dalam kesehatan wanita adalah organisasi dunia di bidang ginekologi dan obstetric (FIGO). FIGO merupakan satu-satunya organisasi dunia yang menjadi wadah para ahli obstetric dan ginekologi dari berbagai masyarakat nasional untuk bergabung dalam keanggotaan. FIGO didirikan pada tahun 1954 dengan jumlah anggota 42 masyarakat. Pada tahun 2000, terdapat 102 masyarakat nasional menjadi anggota mewakili OB/GIN di lebih 100 negara.

a. Misi dan Pengaturan

Misi FIGO ialah meningkatkan kesejahteraan wanita dan menaikkan standar praktik pada area obstetric dan ginekologi [International Federation of Gynecology and Obstetrics. Mission Statement 1998. Web Site www.figo.org]. Dewan Eksekutif terdiri dari enam petugas dan 24 perwakilan dari berbagai masyarakat nasional. FIGO menentukan kebijakan dan bertanggung jawab menyebarkannya kepada masyarakat, menyelenggarakan pertemuan setiap tahun, dengan pertemuan staf dewan sedikitnya dua kali dalam satu tahun. Majelis Umum mengadakan pertemuan setiak tiga tahun pada saat penyelenggaraan tiga tahunan Kongres Dunia Ginekologi dan Obstetri untuk menerima laporan, menyetujui biaya financial, dan memilih staf dan anggota baru Dewan Eksekutif dalam kurun waktu tiga tahun.

b. Proyek Pendanaan Perlindungan Ibu

Salah satu aktivitas utama yang berhubungan dengan Safe Motherhood ialah pengaturan dan manajemen FIGO untuk Proyek Pendanaan Perlindungan Ibu. Proyek ini dirancang untuk mengurangi kematian ibu di negara-negara berkembang dan upayanya difokuskan terutama untuk “mengembangkan hubungan” antara masyarakat OB/GIN negara maju dan masyarakat negara berkembang. FIGO juga menghargai dana bantuan untuk tindakan social kepada masyarakat, yang digunakan dalam organisasi lokakarya nasional yang berhubungan dengan Safe Motherhood dan penurunan kematian ibu. Pada tahun 1999, FIGO bergabung dengan Safe Motherhood Interagency Group bersama ICM. Sejak tahun 2000, Sekretris Jendral ICM telah duduk di jajaran dewan Proyek Pendanaan Perlindungan Ibu – dua contoh penting kemitraan global untuk Safe Motherhood.

c. Aktivitas dan Sumber Lain

FIGO menerbitkan kajian kelompok International Journal of Gynecology and Obstetrics (IJGO) setiap bulan dan Surat Kabar FIGO. Melalui kerja empat komite dan 21 panelis penasihat, FIGO mengembangkan upayanya ke berbagai aspek obstetric dan ginekologi, termasuk onkologi, PMS/AIDS, kesehatan perinatal, pendidikan, terminology medis, patologi payudara, dan etika. Bentuk perhatian FIGO terbesar kepada bidan ialah World Report on Women’s Health, yang terbit setiap tiga tahun serempak dengan penyelenggaraan Kongres Dunia. Laporan yang merupakan tambahan terhadap International Journal of Gynecology dan Obstetrics menyajikan tinjauan menyeluruh terhadap isu kesehatan wanita. Situs FIGO menyediakan informasi terkini tentang aktivitas dan sumber-sumber pengetahuan (International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO): www.figo.org).

 

2. Kelompok Antarlembaga Safe Motherhood/Kemitraan Global untuk Safe Motherhood dan Kesehatan Bayi Baru Lahir

a. Sejarah

Safe Motherhood Interagency Group (IAG) dibentuk pada tahun 1987 pada peluncuran Safe Motherhood Initiative di Nairobi. Gerakan ini berhasil mengumpulkan 130 partisipan yang bersedua memberi perhatian pada kematian ibu yang terus meningkat dan untuk menggerakkan tindakan pada tingkat nasional dan internasional. Anggota pendiri IAG terdiri dari Organisasi Kesehatan Dunia, UNICEF, UNFPA, Bank Dunia, Dewan Populasi, dan Federasi Keluarga Berencana. Pada tahun 1999, suatu keputusan ditetapkan yang menambah dua kelompok besar professional kesehatan yang terlibat dalam Program Safe Motherhood – International Confederation of Midwives (ICM) dan Federasi Ginekologi dan Obstetri Internasional (FIGO) – juga dua kelompok Safe Motherhood regional – Regional Prevention of Maternal Network (Afrika) dan Safe Motherhood Network Nepal. Secretariat IAG adalah Family Care International (FCI) di kota New York.

b. Sasaran dan Objektif

Objektif utama IAG adalah menggerakkan dan menginformasikan pemerintah dan organisasi lain masalah kematian dan ketidakmampuan ibu yang terus berlanjut di berbagai area di dunia, memberi arahan strategis pelaksanaan intervensi untuk meningkatkan Safe Motherhood yang didasarkan pada nasihat teknis para ahli, dan menyediakan berbagai alat dan sumber informasi, seperti lembaran berisi uraian fakta dan kartu briefing, yang dapat digunakan untuk meningkatkan Safe Motherhood di seluruh dunia.

c. Ringkasan Aktivitas Tahun 1987-2002

Aktivitas yang dapat dicatat di antara berbagai aktivitas lain selama 15 tahun terakhir ialah lokakarya tingkat regional dan nasional yang terselenggara antara tahun 1989 dan 1994 untuk menggerakkan dan menginformasikan jajaran pemerintah dan organisasi bukan-pemerintah (NGO) seputar isu kematian dan ketidakmampuan ibu di wilayah dunia yang memiliki angka kematian ibu tertinggi. Salah satu peristiwa yang merupakan puncak adalah peringatan ke-10 (1997-1998) Safe Motherhood Initiative global, diiringi konsultasi teknis yang diadakan di Kolombo, Sri Lanka. Focus pertemuan ini ialah mengidentifikasi semua intervensi yang berhasil mengurangi kematian dan ketidakmampuan ibu, mendefinisikan kebutuhan dan prioritas termasuk strategi hemat-biaya, dan menentukan tindakan yang dibutuhkan di masa yang akan datang untuk mengupayakan kehamilan dan persalinan yang lebih aman di dunia.

Sepuluh Pesan Kerja dari Pertemuan Sri Lanka tentang Safe Motherhood Initiative

1. Mengembangkan Safe Motherhood lewat hak asasi manusia

2. Mendayagunakan wanita, membulatkan pilihan

3. Safe motherhood adalah modal social dan ekonomi yang sangat penting

4. Penundaan menikah dan kelahiran anak pertama

5. Setiap kehamilan beresiko

6. Memastikan kehadiran penolong persalinan terampil pada saat persalinan

7. Meningkatkan akses ke pelayanan kesehatan maternitas berkualitas

8. Mencegah kehamilan yang tidak diinginkan dan aborsi yang tidak aman

9. Mengukur kemajuan

10. Kekuatan kemitraan

Family Care International. The Safe Motherhood Action Agenda: Priorities for the Next Decade, 1998.

Semua pesan yang terkandung dalam tindakan ini telah digunakan untuk mengarahkan focus pada aktivitas IAG selanjutnya sejak tahun 1997, yang dimulai dengan menekankan supaya penolong persalinan terlatih (1999-2002) dan penekanan juga diberikan pada pencegahan aborsi yang tidak aman bagi ibu pada tahun 2001. Proses yang berlangsung menyusul setiap pesan meliputi persiapan laporan “peninjauan data”, konsultasi teknis, konferensi internasional dan/atau regional untuk advokasi pendekatan spesifik yang telah dijelaskan oleh para ahli, dan penyelesaian serta penyebarluasan seperangkat bahan-bahan, seperti buku kecil berisi kebijakan, kartu briefing, studi kasus setiap negara, dan laporan konferensi.

Family Care International, sebagai secretariat bagi IAG, bertindak sebagai tempat penjelasan informasi tentang Safe Motherhood, termasuk pengembangan bibliografi tambahan publikasi Safe Motherhood, yang merespons permintaan individu akan informasi dan bahan-bahan yang diperlukan, serta peluncuran Daftar Kemitraan Safe Motherhood pada tahun 2000 untuk meningkatkan koordinasi dan kolaborasi di antara sejumlah organisasi yang telah berbagi komitmen untuk menjadikan kehamilan dan persalinan aman bagi setiap wanita dan bayi baru lahir. Situs ini dapat digunakan untuk meninjau kembali dan melakukan pemesanan bahan informasi tentang Safe Motherhood pada FCI (Family Care International (FCI): www.safemotherhood.org).

Pada tahun 2001, diputuskan untuk meninjau kembali obyektif dan struktur Safe Motherhood IAG dalam upayanya menjadi organisasi yang lebih inklusif. Selain itu juga untuk menggerakkan sejumlah besar sumber dana untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan wanita usia subur serta bayi mereka yang baru lahir. Pada bulan Januari 2002, suatu kemitraan yang meluas untuk Safe Motherhood dan Newborn Health bertemu di London untuk menentukan upaya global yang akan dilakukan di masa yang akan datang untuk meningkatkan program Safe Motherhood di dunia. Rancangan pernyataan misi tersebut adalah “untuk memobilisasi dan memantau keinginan politik, sumber-sumber global, dan intervensi yang efektif untuk mendukung system kesehatan dan masyarakat guna meningkatkan lintasan (survival) dan kesejahteraan wanita dan bayi baru lahir. Misi akan dicapai dalam konteks upaya global menuju penurunan kemiskinan, kesetaraan, dan hak asasi manusia.” Kelompok ini terdiri atas semua anggota IAG terdahulu, selain perwakilan dari U.S. Agency for International Development (USAID), Department for International Development (DFID), Save the Children, Initiative for Maternal Mortality Programme Assessment (IMMPACT), White Ribbon Alliance, UN Foundation, Asian Development Bank, Norwegian Ministry of Foreign Affairs, dan Maternal Newborn Health (MNH) Universitas John Hopkins. Masa depan Safe Motherhood akan lebih kuat dengan mengombinasi donator utama, lembaga bilateral, dan universitas, juga kelompok-kelompok profider internasional.

Organisasi Kesehatan Dunia

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) – yang dibentuk berdasarkan Piagam PBB Artikel 57 tahun 1948 – merupakan pemain utama dalam arena kesehatan dunia. Pernyataan dalam Piagam PBB yang asli menyebutkan bahwa definisi kesehatan secara luas disusun dan dinyatakan kembali dalam konstitusi WHO: “Kesehatan merupakan suatu derajat kesejahteraan fisik, mental, dan social yang lengkap dan tidak hanya berarti keadaan tanpa penyakit atau cacat” [World Health Organization. Constitution of the World Health Organization. Geneva: WHO, 1948].

WHO berusaha keras secara konsisten mencapai sasaran utamanya – setiap orang mencapai tingkat kesehatan setinggi mungkin – dengan mengarahkan dan mengoordinasi otoritas dalam kerja kesehatan internasional; dengan mencapai dan mempertahankan kolaborasi efektif dengan PBB, lembaga khusus, administrasi kesehatan pemerintah, kelompok professional, dan organisasi lain, seperti NGO; dengan memperbaiki bantuan teknis jika diminta oleh pemerintah; dengan mengajukan konvensi, kesepakatan, dan peraturan yang berkaitan dengan kesehatan dunia, seperti diskriminasi gender dan hak asasi manusia; yang bekerja sama dengan lembaga kekhususan tertentu, seperti CDC, eradikasi epidemic, endemic, dan penyakit lain; dengan menetapkan dan merevisi sesuai kebutuhan pengelompokan penyakit, penyebab kematian, dan praktik kesehatan masyarakat; dengan mengembangkan, mencapai, dan meningkatkan standar kesehatan internasional dengan memperhatikan produk makanan, produk biologis, farmasi, dan produk serupa. WHO juga melindungi dan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan ibu dan anak, kesehatan jiwa, pelayanan kesehatan, persiapan tenaga kesehatan dan strategi penyebarannya, dan melakukan penelitian bidang kesehatan dalam kerja sama dengan negara anggota dan merancang pusat-pusat kerja sama terbaru, seperti Pusat Kolaborasi WHO tentang Keperawatan dan Kebidanan.

a. Organisasi dan Struktur

Kantor pusat WHO berlokasi di Jenewa dengan kantor regional dan kantor perwakilan di seluruh dunia. Enam wilayah WHO meliputi Afrika (Brazzaville, Republik Kongo), Amerika (Organisasi Kesehatan Pan Amerika di Washington, DC), Eropa (Kopenhagen, Denmark), Mediterania Timur (Kairo, Mesir), Asia Tenggara (India, New Delhi), dan Pasifik Utara (Filipina, Manila). Di setiap kantor regional WHO tersedia sebuah posisi sebagai penasihat keperawatan/kebidanan kendati perawat tanpa surat izin praktik kebidanan sering kali mengisi posisi ini.

WHO terdiri atas “negara-negara anggota.” Negara-negara ini umumnya adalah negara yang memiliki keanggotaan di PBB dan menyetujui syarat-syarat yang ditetapkan sejak awal pembentukan konstitusi WHO, termasuk pembayaran kewajiban financial. Setiap negara anggota dapat mengirim sebanyak-banyaknya tiga orang perwakilan resmi kepada World Health Assembly (WHA), yang merupakan badan pembuat kebijakan formal WHO. Badan ini mengadakan pertemuan setiap bulan Mei di Jenewa. Pengawas terpilih dapat juga diikutsertakan dengan persetujuan Direktur Jendral. Beberapa pengawas dapat merupakan perwakilan individual maupun organisasi dari NGO, seperti ICM dan ICN, serta kelompok atau aliansi lain yang berhubungan dengan kesehatan. Dewan Eksekutif biasanya mengadakan pertemuan setiap bulan Januari dan bulan Mei untuk menyusun agenda bagi WHA dan mempertimbangkan kegiatan yang telah dilangsungkan sebelum pertemua selanjutnya. WHA menyeleksi negara-negara yang akan menjadi anggotanya setiap tahun. Setiap negara yang terpilih kemudian dapat mengirim seseorang untuk mewakili negaranya di Dewan Eksekutif. Direktur Jendral WHO, saat ini Dr. Gro Harlem Bruntland dari Norwegia, memimpin pertemuan-pertemuan dewan dan menentukan tugas Sekretariat WHO (di Jenewa di kantor regional), termasuk kegiatan yang diajukan setiap tahun.

b. Program Kerja WHO

Arah strategi yang diadopsi dalam Program Kerja Umum tahun 2002-2005 dan berfokus pada kerja teknis WHO adalah sebagai berikut [World Health Organization. General Programme of Work 2002-2005. Geneva: WHO, 2001]:

1) Mengurangi akibat kesakitan, kematian, dan ketidakmampuan, terutama pada masyarakat yang miskin dan marginal.

2) Meningkatkan gaya hidup sehat dan mengurangi factor risiko terhadap kesehatan manusia yang muncul akibat factor lingkingan, ekonomi, social, dan perilaku.

3) Mengembangkan system kesehatan yang secara jelas meningkatkan hasil-akhir bidang kesehatan, berespons terhadap tuntutan hidup individu, dan memiliki keadilan secara financial.

4) Membuat kerangka kebijakan, menciptakan suatu lingkungan institusional bagi sector kesehatan, dan meningkatkan dimensi kesehatan efektif terhadap aspek social, ekonomi, serta kebijakan lingkungan dan kebijakan pembangunan.

Dalam upaya WHO berespons secara efektif terhadap perubahan dalam konteks internasional, cara-cara baru dalam bekerja telah diidentifikasi dan sedang dilaksanakan. Upaya ini antara lain mengadopsi suatu pendekatan yang lebih luas terhadap kesehatan dalam konteks perkembangan manusia, tindakan kemanusiaan, kesetaraan antara pria dan wanita, serta pencapaian hak-hak manusia, dengan focus utama pada hubungan antara kesehatan dan penurunan kemiskinan. Perubahan pendekatan ini menempatkan WHO pada garis terdepan di beberapa area: membentuk consensus nasional dan internasional yang lebih luas dalam hal kebijakan, strategi, dan standar kesehatan lewat pembentukan generasi dan manajemen intervensi yang efektif dari segi penelitian dan keahlian; memicu tindakan yang lebih efektif dalam hal meningkatkan dan memperbaiki kesehatan dan menurunkan ketidakseimbangan antara hasil-akhir kesehatan dengan menggunakan kemitraan yang dinegosiasikan dengan cermat; serta menciptakan suatu budaya organisasi yang tanggap [World Health Organization. General Programme of Work 2002-2005. Geneva: WHO, 2001].

Setiap tahun WHO menetapkan seluruh prioritas organisasi secara luas dalam upaya membentuk sasaran, kebijakan, dan penggunaan alokasi dana. Sebagai contoh, prioritas organisasi secara luas pada tahun 2002-2003 antara lain:

1) Malaria, Tuberculosis, dan HIV/AIDS;

2) Kanker, Penyakit Jantung, dan Diabetes;

3) Tembakau;

4) Kesehatan Ibu;

5) Keamanan Makanan;

6) Kesehatan Jiwa;

7) Penggunaan Darah yang Aman;

8) Sistem Kesehatan; dan

9) Mengupayakan Perubahan pada WHO.

Berbagai departemen dalam tubuh WHO memiliki beban untuk melaksanakan rencana kerja dan menyediakan keahlian teknis yang dibutuhkan bagi pemerintah dan negara-negara anggota.

 

Peran dalam Mengupayakan Kehamilan yang Lebih Aman

Keseluruhan prioritas dalam organisasi WHO sejak tahun 1987 ditekankan pada kesehatan ibu, dimulai dengan peluncuran Safe Motherhood Initiative secara umum di Nairobi pada tahun 1987. Sumber-sumber pengetahuan seperti video, Why did Mrs. X Die? dan Opening the Gates to Life, manual seperti Mother-Baby Package [World Health Organization. The Mother Baby Package. Geneva: WHO, 1994], dan standar pendidikan seperti Midwifery Modules [World Health Organization. Midwifery Modules. Geneva: WHO, revised, 2002], semua ini berasal dari badan teknis WHO, Divisi Kesehatan Reproduksi. Pada tahun 1998. Hari Kesehatan Dunia dedikasikan untuk Safe Motherhood, dan kesehatan ibu telah menerima perhatian umum dengan cara yang baru.

Pada tahun 1999, WHO, UNFPA, UNICEF, dan Bank Dunia telah mengeluarkan sebuah pernyataan gabungan untuk mengurangi kematian ibu. Penekanan baru pada dokumen ini merupakan pemberitahuan bahwa program Safe Motherhood dapat dicapai melalui peningkatan dan pemberian dukungan terhadap hak-hak manusia, termasuk mendayagunakan wanita untuk membuat pilihan dalam kehidupan reproduksi dengan dukungan keluarga dan masyarakat, serta memastikan akses ke pelayanan kesehatan maternal berkualitas, dengan persalinan ditolong oleh tenaga kebidanan terampil, disertai akses tepat waktu ke perawatan kebidanan darurat jika timbul komplikasi berat [WHO, UNFPA, UNICEF, and World Bank. Reduction of Maternal Mortality: A Joint WHO/UNFPA/UNICEF/World Bank Statement. Geneva: WHO, 1999, p.2].

Pada tahun 2000, komitmen terbaru WHO terhadap komponen kesehatan Safe Motherhood Initiative ialah dalam bentuk sebuah program bernama Menciptakan Masa Kehamilan yang Lebih Aman (Making Pregnancy Safer, MPS) – sebuah strategi dalam sector kesehatan untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian maternal dan bayi [World Health Organization. Making Pregnancy Safer: A-Health Sector Strategy for Reducing Maternal and Perinatal Morbidity and Mortality. Geneva: WHO: 2001]. Sasaran spesifiknya meliputi memperbaiki kapasitas nasional dalam mengurangi angka kesakitan maternal dan bayi, penetapan standar dan pengembangan alat-alat yang akan digunakan di lapangan, penelitian dan perkembangan praktik terbaik untuk mengurangi kematian dan ketidakmampuan ibu, serta mengawasi dan mengevaluasi praktik-praktik tersebut untuk direplikasi pada area di dunia yang tingkat kebutuhannya paling besar. Selain itu, divisi dan pengelompokan di dalam maupun di luar tubuh WHO terus mengupayakan aspek lain Safe Motherhood Initiative, termasuk hak-hak manusia, pendayagunaan wanita, pendidikan kepada remaja puteri dan wanita, serta pengembangan tingkat social-ekonomi wanita.

Pesan kunci dalam strategi MPS, yang mencerminkan SMI-USA dan Aliansi Pita Putih, terdiri atas:

1) Setiap wanita harus menginginkan kehamilannya;

2) Semua wanita hamil dan bayi mereka harus mampu mengakses perawatan terampil; dan

3) Semua wanita harus dapat mencapai fasilitas kesehatan yang berfungsi untuk mendapatkan perawatan yang tepat bagi mereka sendiri atau bayi mereka ketika terjadi komplikasi [World Health Organization. Making Pregnancy Safer: A-Health Sector Strategy for Reducing Maternal and Perinatal Morbidity and Mortality. Geneva: WHO: 2001].

Kebutuhan kolaborasi yang lebih luas dalam upaya global untuk mencapai hasil-akhir kesehatan bagi semua wanita usia subur dan bayi mereka merupakan tema saat ini yang digunakan oleh WHO, ICM, FIGO, IAG, dan Aliansi Pita Putih – organisasi kunci yang tertarik dalam membuat kesehatan ibu dan bayi baru lahir sebagai prioritas puncak bagi segenap pemerintah dan negara. Tanpa wanita yang sehat, kita tidak akan pernah memiliki anak-anak yang sehat. Dan tanpa anak-anak yang sehat, tidak akan ada negara yang akan mencapai potensi terbesarnya bagi kesehatan dan perkembangan negara tersebut. Dengan demikian, bidan adalah profesi yang penting dalam perkembangan negara yang sehat.

c. Peran Bidan dan Kebidanan di WHO

WHO sejak lama mengakui nilai seorang bidan yang telah terlatih baik dalam mengurangi kematian dan ketidakmampuan ibu [World Health Organization. Midwives to the world. World Health: The Magazine of the World Health Organization 50th Year, No. 2, March-April 1997]. Pernyataan gabungan pada tahun 1999 yang dicatat di atas memberi pengakuan penuh terhadap fakta bahwa kebidanan dapat membuat perbedaan dalam meningkatkan kehamilan dan persalinan yang aman bagi wanita dan bayi baru lahir. Bidan memegang posisi kunci dalam WHO di Jenewa sebagai ahli teknis dalam program kerja Safe Motherhood, dan mereka telah bekerja bersama ICM, ICN, dan FIGO dalam pengembangan bahan-bahan pelatihan bagi bidan dan dokter. Sebuah contoh bentuk kemitraan yang produktif antara WHO dan ICM adalah pengembangan modul kebidanan WHO yang dilandaskan pada hasil-akhir Lokakarya Pra-Kongres Kolaborasi yang diadakan pada tahun 1990 dan 1993. Bidan merupakan mitra penting dalam setiap strategi Safe Motherhood. Malahan, ketika Dr. Barbara Kwast, seorang bidan yang berasal dari Belanda, mencatat pada awal tahun 1990-an bahwa bidan merupakan bagian penting dalam setiap langkah untuk mengupayakan kehamilan yang lebih aman bagi wanita dan bayi [Kwast, B. E. Midwives: key rural health workers in maternity care. Int. J. Gynecol. Obstet. 38 (suppl.) S9-S15, 1992].

d. Resolusi World Health Assembly dalam Memperkuat Keperawatan dan Kebidanan

Sejak tahun 1948, World Health Assembly (WHO) telah mengadopsi rangkaian 11 resolusi yang bertujuan memperkuat keperawatan dan kebidanan dalam upaya mencapai kesehatan untuk semua orang [Vonderheid, S. C., and Al-Gasseer, N. World Health Organization and global health policy. J. Nurs. Scholarship 34:2:109-110, 2002]. Resolusi ini yang dikeluarkan pada bulan Mei 2001 mencerminkan keprihatinan terhadap penurunan jumlah perawat dan bidan secara umum dan mengakui pentingnya “pelayanan keperawatan dan kebidanan sebagai inti setiap system kesehatan dan kesehatan nasional” [World Health Assembly. Strengthening Nursing and Midwifery: WHA 54. 12. Geneva: World Health Organization, May 2001]. Resolusi tersebut menekankan setiap negara anggota “untuk mengejar reformasi sector kesehatan dengan melibatkan perawat dan bidan dalam membuat kerangka kerja, perencanaan, dan pelaksanaan kebijakan kesehatan di semua tingkat” [World Health Assembly. Strengthening Nursing and Midwifery: WHA 54. 12. Geneva: World Health Organization, May 2001] dan merupakan sebuah langkah penting dalam mengenali peran kebijakan bahwa bidan dan perawat harus dapat berperan dalam merancang pelayanan dan system kesehatan yang tanggap. Aspek lain dalam resolusi tersebut adalah mengarah pada pendidikan yang berlandaskan kompetensi perawat dan bidan, kerangka kerja peraturan yang mempermudah praktik kebidanan, serta pengembangan dan pemeliharaan lingkungan kerja yang sehat. Situs WHO (World Health Organization (WHO): www.who.ch) yang bertopik resolusi WHA menjelaskan rincian resolusi terkini. Aktivitas ini dan aktivitas WHO lain mengatur peran bermanfaat yang dimainkan bidan professional dalam setiap upaya untuk memperbaiki kesehatan wanita, terutama wanita usia subur.

Aktivitas Kunci

Pertumbuhan tetap dan peningkatan pengaruh ICM selama decade terakhir semakin meningkatkan kebutuhan terhadap bidan muda untuk menjadi aktif dalam beberapa program dan aktivitas ICM. Beberapa aktivitas ICM diuraikan di bawah ini.

1) Kongres dan Konferensi

Kongres Tiga Tahunan ICM telah menyatukan semua bidan dari seluruh dunia untuk berbagi pengetahuan, ide, dan pengalaman. Kongres tersebut telah menjadi aktivitas utama dan kekuatan financial ICM sejak tahun 1919, kecuali selama perang dunia kedua. Rangkaian pertemuan tidak pernah absen sejak tahun 1954.

Sejak tahun 1987, ketika Organisasi Kesehatan Dunia dan mitra kerja global lain meluncurkan Safe Motherhood Initiative sebagai kelanjutan Konferensi Nairobi, ICM telah menjadi salah satu pemain aktif dan pemimpin dalam upaya global meningkatkan Safe Motherhood Initiative. ICM menyelenggarakan pendidikan dan mendukung para bidan yang tinggal dan bekerja di negara-negara yang memiliki angka kematian ibu tertinggi. Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk lokakarya-lokakarya yang akan diadakan sebelum Kongres ICM, di wilayah yang sama atau di berbagai tempat dalam wilayah yang kebutuhannya paling tinggi. Sejak tahun 1987, Lokakarya Prakongres telah menjadi upaya kolaborasi dengan WHO dan lembaga PBB seperti UNICEF, UNAIDS, dan UNFPA. Selain itu, lokakarya pertengahan tigatahunan diadakan menyusul pertemuan Komite Eksekutif di negara-negara berkembang.

2) Hari Bidan Internasional

Pada pertengahan tahun 1990-an, ICM menetapkan tanggal 5 Mei sebagai Hari Bidan Internasional. Upaya untuk mendapatkan pengakuan dunia terhadap penetapan tanggal ini tetap berlanjut melalui para anggota asosiasi. Dewan ICM menetapkan tema aktivitas selama setiap kurun waktu tiga tahunan dalam konteks Safe Motherhood dan peran bidan. Pada tahun 2000, ICM menciptakan sebuah poster yang digunakan untuk mengumumkan Hari Bidan Internasional dan tema tahun tersebut. Setiap anggota asosiasi sangat aktif dalam peristiwa tahunan ini dan sering kali mengumpulkan dana untuk mendukung kehadiran para bidan dari negara-negara berkembang pada kongres dan konferensi ICM.

3) Perwakilan

Sebagai satu-satunya organisasi kebidanan yang mendapat pengakuan resmi dari Persatuan Bangsa-Bangsa, ICM memilih organisasi anggotanya untuk mewakili ICM dengan menghadiri pertemuan yang membicarakan tema-tema hangat bidang kebidanan di kantor regional dan kantor-kantor pusat global dan regional Persatuan Bangsa-Bangsa (New York, New Delhi) dan Organisasi Kesehatan Dunia (Jenewa). Selain itu, ICM berpartisipasi dalam komite regional dan global untuk menyoroti berbagai isu kesehatan wanita, Safe Motherhood, dan dukungan kerja. Pada tahun 1999, ICM merupakan salah satu anggota Interagency Group of Safe Motherhood dan menjalankan peran bersama sebagai ketua sejak tahun 2000.

4) Sumber/Peralatan

Sumber-sumber kunci kebidanan telah berkembang selama 50 tahun terakhir. Sumber-sumber ini masih penting bagi kinerja ICM, bidan, dan asosiasi kebidanan, antara lain: Definisi Bidan Internasional, Lokakarya Prakongres dalam Safe Motherhood, yang menghasilkan Modul Kebidanan WHO [World Health Organization. Midwifery Modules. Geneva: WHO, revised, 2002] dan kemudian digunakan di berbagai negara berkembang. Pernyataan Misi ICM [International Confederation of Midwives. Milestones in International Midwifery. London: ICM, 1994], dan Kode Etik Bidan Internasional [International Confederation of Midwives. International Code of Ethics for Midwives. London: ICM, 1999], yang telah digunakan untuk menyusun pernyataan etik di masing-masing asosiaso anggota ICM. Dokumen lain, seperti Visi ICM dan Strategi Utama [International Confederation of Midwives. Empowering Women-Empowering Midwives: Global Vision for Women, Global Vision for Midwifery. London: ICM, 1994], Kompetensi Inti bagi Praktik Kebidanan Dasar [Fullerton, J. T., and Brogan, K. Essential Competencies for Midwifery Practice: A Project Report and Survey Analysis. The Hague, Netherlands: International Confederation of Midwives, 2002], Program Pendidikan [International Confederation of Midwives. Duidelines for Establishing a Midwifery Educational Programme. Presented at the ICM Council, Vienna, April 2002. Adopted in principle], bersama pernyataan posisi dan kebijakan senada, memiliki petunjuk penggunaan oleh asosiasi anggota atau kelompok tertentu.

Situs ICM diciptakan pada tahun 1996 dan dirancang ulang pada tahun 2001 yaitu www.internationalmidwives.org. Dokumen ICM terkini dan aktivitasnya dapat ditemukan dalam situs tersebut atau dengan menghubungi kantor pusat ICM di Belanda.

5) Publikasi

Publikasi utama ICM adalah lewat International Midwifery, yang diterbutkan setiap empat sampai enam kali setiap tahun, yang berisi informasi tentang aktivitas kantor pusat dan Dewan Manajemen serta aktivitas asosiasi kebidanan juga upaya-upaya bidan untuk melindungi kehamilan dan persalinan di seluruh dunia. Berlangganan pribadi juga dianjurkan dan dapat dilakukan melalui situs ICM. ICM setiap tahun juga menerbitkan tajuk media bagi Hari Bidan Internasional, tanggal 5 Mei, dan bekerja sama dengan International Council of Nurses (ICN) dalam kolaborasi pembuatan tajuk media.

Selasa, 02 September 2014

Organisasi dan Struktur

Semua anggota ICM merupakan anggota asosiasi mandiri yang terdiri dari bidan-bidan ataupun merupakan kelompok bidan yang memiliki otonomi tetapi berada di bawah organisasi lain, misalnya, masyarakat keperawatan atau kebidanan. Criteria keanggotaan asosiasi dalam ICM diuraikan dalam konstitusi ICM dan dilindungi hukum. Keanggotaan tersebut didasarkan pada keanggotaan di sebuah asosiasi yang memenuhi International Definition of the Midwife, termasuk di dalamnya persiapan pendidikan sebagai seorang bidan dan pengakuan resmi untuk melakukan praktik kebidanan. Selain itu, tidak ada kategori keanggotaan bidan secara individual dalam ICM. Semua bidan yang merupakan anggota suatu asosiasi yang memiliki status keanggotaan di ICM otomatis menjadi anggota ICM. Sebagai contoh, semua anggota bidan pada American College of Nurse-Midwives (ACNM) otomatis menjadi anggota ICM dan dapat turut serta dalam setiap aktivitas ICM.

Struktur dalam Confederation didasarkan pada empat wilayah dengan 11 perwakilan terpilih. Mereka sekaligus merupakan anggota Komite Eksekutif. Wilayah dan jumlah perwakilan meliputi wilayah Afrika (2), Amerika (2), Asia Pasifik (2), dan Eropa (5). International Council merupakan badan pengatur pada Confederation, yang terdiri atas dua orang delegasi yang memiliki hak suara dari setiap anggota asosiasi, 11 Perwakilan Regional, Pejabat Konfederasi (presiden, wakil presiden, dan residen sebelumnya), dan tiga anggota terpilih (direktur, direktur deputi, dan bendahara). Pertemuan International Council secara teratur diadakan setiap tiga tahun sebelum Kongres Tiga Tahunan ICM. Masa tugas bagi pejabat terpilih juga tiga tahun dan dapat dicalonkan kembali sebanyak tiga kali berturut-turut untuk jabatan yang sama.

Komite Eksekutif (Perwakilan Regional dan Dewan Manajemen) berfungsi sebagai suatu badan penasihat bagi staf di kantor pusat dan Badan ICM. Mereka melakukan pertemuan dua kali dalam periode tiga tahun. Dewan Manajemen bertanggung jawab menerapkan kebijakan dan aktivitas Badan ICM serta memberi pandangan kepada staf ICM. Mereka menyelenggarakan pertemuan sedikitnya setiap tiga hingga empat bulan. Sekretaris Umum, yang bertempat di markas ICM, merupakan pejabat eksekutif kepala ICM, ditunjuk oleh International Council untuk mengatur hubungan Confederation sehari-hari sesuai dengan petunjuk dari Badan dan Dewan Manajemen.

d. Visi dan Sasaran Global

Pendahuluan pada pernyataan asli Visi dan Sasaran Global ICM [International Confederation of Midwives. Empowering Women-Empowering Midwives: Global Vision for Women, Global Vision for Midwifery. London: ICM, 1994] mula-mula diadopsi oleh Badan ICM pada tahun 1993. Pendahuluan tersebut terdiri atas pernyataan tujuan:

Dalam menghadapi abad ke-21, bidan dan wanita memiliki banyak masalah yang sama dan mereka akan berupaya mencapai visi yang memperkuat baik wanita maupun bidan untuk sepenuhnya dihargai sebagai individu sekaligus anggota produktif dari seluruh masyarakat.

Pernyataan tujuan ini mencerminkan kesadaran bahwa pertumbuhan dan perkembangan kebidanan serta ICM tidak bisa tidak terkait dengan status pendidikan, social, dan ekonomi wanita yang menerima pelayanannya seiring dengan evolusi dan peningkatan hak wanita dalam masyarakat keseluruhan.

Unsur inti yang terkandung dalam Pernyataan Visi ICM Empowering Women … Empowering Midwives berfokus pada visi bagi wanita dan kesehatan mereka, sekaligus suatu visi untuk masa depan kebidanan. Sebagian besar pernyataan visinya diinspirasikan oleh pernyataan visi ACNM [American College of Nurse-Midwives. Listening to Women: Visionary Planning Document. Washington, DC: ACNM, 1992] dan mendapat izin untuk penggunaannya – sebuah contoh pentingnya memiliki mitra kerja kebidanan yang bekerja sama untuk berbagai pengalaman dan ide. Semua unsure penting ini dimulai dan diakhiri disertai penghargaan terhadap wanita sebagai individu yang memiliki hak asasi – baik sebagai penerima perawatan kebidanan atau sebagai bidan itu sendiri [International Confederation of Midwives. International Code of Ethics for Midwives. London: ICM, 1999; and International Confederation of Midwives. Midwives, Women, and Human Rights. Provisional statement presented to ICM Council, Vienna, April 2002. The Hague, Netherlands: ICM]. Visinya adalah sebuah dunia yang “tidak ada wanita yang takut tentang kehidupannya atau kehidupan bayinya jika ia hamil,” dan “ wanita berpendidikan dan berdaya juang untuk menjadi kuat dalam rasa percaya terhadap diri sendiri, untuk mempercayai tubuh mereka sendiri, untuk merencanakan kehamilan mereka, dan untuk membuat pilihan yang bijaksana dalam arena perawatan kesehatan.”

Unsure penting dalam Vision for The Future Midwifery [International Confederation of Midwives. Empowering Women-Empowering Midwives: Global Vision for Women, Global Vision for Midwifery. London: ICM, 1994] adalah memiliki dunia yang memungkinkan “bidan memberi pelayanan di semua tatanan dan untuk semua wanita yang memerlukan perawatan kebidanan” sebagai “tenaga kesehatan yang memiliki otonomi dan menghargai nilai kerja tim dalam memenuhi seluruh kebutuhan wanita dan keluarganya.” Visi tersebut dilanjutkan dengan “Bidan diakui sebagai ahli dalam perawatan wanita usia subur dan pelaksana dalam upaya Safe Motherhood” serta “bidan memainkan peran penting dalam menentukan perawatan kesehatan pada masa yang akan datang, termasuk perawatan kesehatan di dalam masyarakat bagi semua wanita dan keluarga.”

Semua pernyataan visi harus memiliki sebuah dokumen “strategi” penunjang [Barker, J. A. Future Edge: Discovering the New Paradigms of Success. New York: Morrow, 1992, p. 203]. ICM telah mengidentifikasi strategi spesifik untuk memenuhi tujuannya: (1) mengarahkan kesehatan wanita secara umum, (2) memperkuat profesi kebidanan, dan (3) meningkatkan organisasi secara internasional. Sasaran terkini yang ditetapkan tahun 2002 ialah melakukan tindakan menuju pencapaian sasaran Safe Motherhood dan memperlihatkan tindakan kebidanan yang berpotensi menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir; memperluas pengetahuan kebidanan dan pengaruh bidan di seluruh dunia, di mana pun memungkinkan pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan sehubungan dengan pemberian perawatan maternitas; serta bekerja sama dengan masyarakat dan kelompok wanita untuk mengembangkan pengetahuan mereka dan kewaspadaan tentang cara mencapai dan mempertahankan kesehatan. Sasaran ICM yang lain berkaitan erat dengan upaya memperkuat pendidikan kebidanan dan aktivitas pengaturan, memperkuat dan mendukung penelitian kebidanan, dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kebidanan. Sebagai sebuah organisasi, ICM juga memiliki komitmen untuk meningkatkan jumlah anggotanya, menyebarluaskan informasi, dan melindungi ketersediaan dana ICM, juga menyelenggarakan forum, seperti Kongres Tiga Tahunan yang mewadahi anggota asosiasi dalam berbagi dan mengembangkan diri dari pengalaman anggota lain.

e. Definisi Internasional Bidan

(1972; 1990; 2002) Definisi Internasional tentang Bidan, yang dikembangkan pertama kali tahun 1972, telah menjadi salah satu dokumen ICM yang paling penting dan bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya. Kenyataan tersebut telah disetujui oleh WHO dan kemudian oleh Federasi Internasional Ginekologi dan Obstetri (FIGO) yang berperan baik dalam status kerja samanya dengan ICM sebagai pemain utama dalam kesehatan umum, seperti kredibilitas yang FIGO miliki dalam menjelaskan definisi bidan itu sendiri, apa yang harus bidan lakukan, dan dalam kerangka kerja bagaimana, serta lingkungan di mana bidan dapat dengan mudah melakukan praktik maternitas. Definisi ini kemudian mengalami perbaikan pada tahun 1991 dan sekali lagi pada tahun 2002. Tujuan utamanya ialah memodernisasi definisi yang digunakan dan dapat mencerminkan pengaturan mandiri dan otonomi dalam kebidanan.

Selama tahun 2000 dan 2001, sebuah pernyataan tentang kompetensi yang sangat penting untuk praktik kebidanan dasar telah diuji coba di lapangan di 22 negara berbeda [Fullerton, J. T., and Brogan, K. Essential Competencies for Midwifery Practice: A Project Report and Survey Analysis. The Hague, Netherlands: International Confederation of Midwives, 2002]. Sejumlah total 214 pernyataan tugas individual dalam enam domain (mis., antepartum, intrapartum) disajikan untuk dipertimbangkan dan diberi komentar oleh para pendidik kebidanan, mahasiswa senior kebidanan, bidan praktik, dan jajaran pengatur praktik kebidanan. Pada uji coba lapangan ini dibahas tipe pendidik kebidanan dan ruang lingkup praktik kebidanan. Dari contoh ini, sedikit lebih dari 40% program pendidikan menggunakan cara langsung, 30% didasarkan pada pertama-tama pendidikan keperawatan, dan 20% pada pendidikan kebidanan dan kepertawatan. Ruang lingkup keperawatan maternitas memiliki rentang dari perawatan pada masa hamil dan melahirkan saja hingga perawatan wanita dari masa remaja hingga dewasa menengah, dengan perswalinan dipimpin di semua tatanan pelayanan. Mayoritas responden kebidanan adalah karyawan yang bekerja sebagai bidan di lingkungan institusi dan mendapat gaji. Tujuh puluh lima persen menyediakan perawatan antenatal, 93% perawatan intrapartum, dan 85,5% memberi pelayanan untuk wanita selama pascapartum. Hanya 63% bidan yang melakukan praktik kebidanan menyediakan perawatan bayi baru lahir. Ada beberapa perbedaan yang nyata antarwilayah di seluruh dunia. Bidan yang berada di bagian selatan sampai negara-negara berkembang memiliki ruang lingkup praktik yang lebih luas daripada di banyak negara maju [Fullerton, J. T., Severino, R., Brogan, K., and Thompson, J. Essential competency of midwifery practice, phase II: affirmation of the competency statements. Midwifery (September) 2002].

Kematian Ibu

Organisasi Kesehatan Dunia menjelaskan kematian ibu sebagai berikut:

Kematian seorang wanita ketika hamil atau dalam 42 hari setelah kehamilan berakhir, tanpa memperhatikan durasi dan tempat kehamilan, yang diakibatkan oleh penyebab apapun yang berkaitan dengan atau diperburuk oleh kehamilan itu sendiri atau penatalaksanaannya, tetapi bukan akibat kecelakaan atau penyebab yang tidak disengaja [World Health Organization. International Classification of Disease, Vol. 9, December 1987]. Penyebab kecelakaan atau yang tidak disengaja adalah penyebab yang akan menyebabkan kematian, tetapi tidak berkaitan dengan kehamilan, seperti kecelakaan lalu lintas, luka tembak, keracunan, dan sebagainya.

Kematian juga dikelompokkan ke dalam dua kategori:

a. Kematian obstetric langsung. Kematian ini diakibatkan komplikasi kebidanan yang terkait dengan kehamilan (kehamilan, persalinan, dan infeksi puerperium), akibat intervensi, kelalaian, terapi yang tidak tepat, atau salah satu di antaranya.

b. Kematian obstetric tidak langsung. Kematian jenis ini merupakan akibat penyakit terdahulu atau penyakit yang berkembang selama masa hamil, dan tidak berkaitan dengan penyebab langsung, tetapi diperparah dengan dampak fisiologis kehamilan [World Health Organization. International Classification of Disease, Vol. 9, December 1987].

Di negara-negara berkembang, ada lima penyebab utama kematian ibu, antara lain: (1) perdarahan, (2) sepsis, (3) hipertensi akibat kehamilan, (4) aborsi yang tidak aman, dan (5) persalinan macet.

Seorang pasien Gravida 3 berusia 32 tahun, dengan satu bayi yang lahir hidup, telah menjadi pasien tetap sejak usia kehamilannya 12 minggu. Ia adalah teman saya dan berasal dari daerah ini. Pasien datang dengan nyeri bersalin pada pukul 9 malam, dengan awitan nyeri dirasakan sejak pukul 4 sore. Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan pervaginam. Pembukaan adalah 2 cm. ketuban utuh. Persalinan berjalan dengan baik. Pasien melahirkan seorang bayi perempuan melalui persalinan spontan pada pukul 4:15. Plasenta terlihat utuh, tetapi ketuban sudah pecah. Pasien mulai mengalami perdarahan. Pitosin 500 cc diberikan melalui infuse. Penekanan bimanuan eksternal dilakukan tanpa hasil. Pengeluaran secara manual (pemeriksaan uterus) dilakukan. Hasilnya hanyalah bekuan darah. Penekanan bimanual internal dilakukan tanpa hasil. Pitosin diberi lagi sejumlah 1000 ml kemudian pasien dipindahkan. Saat itu terjadi kesulitan untuk mendapatkan transportasi dan jalan sangat buruk. Kami membutuhkan 4 jam 10 menit untuk menempuh 35 km perjalanan. Pasien menerima 2500 ml cairan IV. Sayangnya, dalam perjalanan aliran IV mengalami infiltrasi. Namun, karena jalanan rusak, saya tidak dapat menemukan venanya. Semua upaya untuk memasang slang infuse yang baru gagal. Pasien meninggal di rumah sakit sebelum dokter tiba. EBL 2500 cc. Saya pingsan saat tiba di rumah sakit. Mereka memberi saya Valium 20 mg dan membawa saya ke tempat tidur. Saya tidak sadar untuk beberapa waktu. Saya menangis dan merasa sangat buruk. Mereka berbicara kepada saya dan menjelaskan bahwa mereka sering kali mendapatkan wanita dengan kasus yang sama meninggal di rumah sakit berfasilitas lengkap. Saya tidak merasa percaya diri dan kompeten. Apabila teringat hal itu,s aya suka  menangis.

Bidan besa yang telah terlatih dalam Program Keterampilan Penyelamatan Hidup telah mengatur petugas persalinan tradisional (traditional birth attendance, TBA) di tujuh desa sekitar tempat tinggalnya untuk mengunjungi rumah maternitas yang ia miliki untuk melanjutkan pendidikan dan supaya dapat merujuk setiap pasiennya yang menemui masalah. Perhatikan bahwa jika jalan yang rusak itu diperbaiki, maka waktu perjalanan yang dibutuhkan dari 4 jam 10 menit menjadi kurang dari satu jam setengah.

Sumber: Marshall, M. A. Ghana Registered Midwives Association Continuing Education Project – Canegie Corporation Grant B 5071, Final Evaluation Report. Evaluasi yang tidak diterbitkan tentang Life-Saving Skills Training Project, 1992.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2. Cara Menggambarkan Mortalitas

Ada tiga cara utama untuk menghitung dan menggambarkan kematian ibu: (1) angka, (2) rasio, dan (3) risiko sumur hidup.

a. Angka Kematian Ibu

Angka kematian ibu adalah jumlah wanita yang meninggal pada masa hamil atau dalam 42 hari pertama setelah hamil, akibat beberapa penyebab yang berkaitan dengan atau penyebab yang diperparah oleh kehamilan per 100.000 wanita pada usia reproduktif pada tahun tersebut [World Health Organization. International Classification of Disease, Vol. 9, December 1987]. WHO International Classification of Disease (Vol. 10, 1997) telah merevisi pengertian tersebut dan memasukkan kematian dalam satu tahun penuh setelah masa kehamilan berhenti. Oleh karena pengertian ini jarang digunakan dan sulit didapatkan, maka sangatlah penting melihat bagaimana satu negara melaporkan data-data tersebut kepada negara lain tentang angka kematian ibu dan rasionya [World Health Organization. International Classification of Disease, Vol. 10, 1997]. Angka kematian tersebut dapat dihitung dengan cara berikut:

Keuntungan menggunakan angka kematian ibu adalah untuk membandingkan kematian ibu dengan semua wanita yang memiliki risiko dalam sebuah populasi. Dalam masyarakat yang system pengumpulan data statistiknya dapat diandalkan, data tersebut dapat merupakan cara yang jelas untuk menggambarkan kematian. Kendati demikian, pada sebagian besar negara berkembang, hasil data sensus merupakan data yang sudah tua atau terlalu banyak mengandung banyak kesalahan, sehingga tidak memungkinkan penggunaan angka.

b. Rasio Angka Kematian Ibu

Rasio angka kematian ibu adalah jumlah wanita yang meninggal ketika sedang hamil atau dalam 42 hari pertama setelah masa kehamilan berakhir, akibat apapun yang berkaitan dengan atau yang diperburuk oleh kehamilan per 100.000 kelahiran hidup dalam satu tahun tertentu [World Health Organization. International Classification of Disease, Vol. 9, December 1987].

Keuntungan menggunakan rasio angka kematian ibu adalah bahwa jumlah kelahiran hidup dapat lebih mudah dihitung. Ini merupakan cara yang paling umum digunakan untuk menggambarkan tren di sebuah negara dan untuk membuat perbandingan antarnegara.

c. Risiko Seumur Hidup Kematian Ibu

Risiko seumur hidup terhadap kematian ibu dapat dihitung dengan mengalikan angka kematian ibu dengan 30 (jumlah tahun yang terdapat antara usia 15 dan 44), tetapi durasi pajanan yang efektif dapat bervariasi secara luas. Risiko seumur hidup terhadap kematian ibu dapat secara ringkas dinyatakan sebagai risiko seorang wanita yang menjelang kematian (dying) akibat kehamilan dan persalinan selama hidupnya. Penghitungan tersebut didasarkan pada angka kematian ibu dan angka kesuburan di sebuah negara. Risiko seumur hidup 1 dalam 3000 merupakan risiko kematian yang rendah akibat kehamilan dan persalinan, sementara 1 dalam 100 merupakan risiko tinggi [Herz, B., and Measham, A. R. The Safe Matherhood Initiative: Proposals for Action. World Bank Discussion Paper No. 9. Washington, DC: World Bank, 1987].

Risiko Seumur Hidup Wanita Berdasarkan Asalnya

Asal Negara

Risiko Kematian

Afrika

Asia

Amerika Latin/Karibia

Negara berkembang

Negara maju

1 dari 16

1 dari 65

1 dari 130

1 dari 48

1 dari 1800

Sumber: Dari data WHO tahun 1997, dalam Ross, S. R. Promoting Quality Maternal and Newborn Care: A Reference Manual for Program Managers; Washington, DC, Cooperative for Assistance and Relief Everywhere (CARE), 1998, pp. 1, 17.

Keuntungan menggunakan risiko seumur hidup pada seorang ibu yang menjelang kematian adalah bahwa metode ini mengakui bahwa wanita dengan tingkat kesuburan tinggi atau wanita yang secara universal tidak memiliki akses menuju program keluarga berencana yang efektif memiliki risiko menjelang kematian yang tinggi akibat kehamilan atau persalinan.

 

3. Angka Kesakitan Ibu

Sesulit apapun data kesakitan ibu yang akurat, pengumpulan data tentang kesakitan ibu jauh lebih sulit. Kendati demikian, semua wanita di seluruh dunia meninggal selama hamil akibat penyakit yang sebenarnya ada strategi pencegahan dan terapinya. Di negara Nigeria, tempat terjadi kematian ibu setiap 10 menit, 10% kematian ibu diakibatkan oleh penyakit malaria. Penyebab lain adalah penyakit tetanus, tuberculosis, dan yang jumlahnya saat ini meningkat adalah penyakit HIV/AIDS.

Salah satu tantangan yang sangat besar pada abad ini adalah meningkatkan pencegahan, pengenalan, dan terapi teknologi-rendah untuk mengatasi kondisi-kondisi kesakitan pada masa hamil. Saat ini, belum ada kesepakatan umum untuk menjelaskan definisi hipertensi-akibat-kehamilan, persalinan terhambat, dan perdarahan. Definisi sangatlah penting karena dapat menjadi pedoman menentukan protocol perawatan yang akan digunakan. Contoh praktisnya adalah perdarahan, yang didefinisikan sebagai kehilangan darah sebanyak 500 cc selama proses persalinan. Seorang wanita yang memasuki persalinan dengan jumlah hemoglobin 12 g dapat menoleransi kehilangan darah ini disertai beberapa gejala yang muncul. Seorang wanita yang memasuki persalinan dengan jumlah hemoglobin 4 g dapat mengalami syok dan meninggal karena hanya kehilangan darah sebanyak 300 cc.

Dahulu banyak disediakan waktu dan upaya, pelatihan petugas persalinan tradisional. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa ini akan menurunkan angka kematian ibu dalam masyarakat. Pengalaman lebih dari 20 tahun menunjukkan bahwa hal ini tidak memberi sumbangsih yang nyata dalam mengurangi angka kematian ibu. Jelasnya, sangat tidak beralasan untuk mengharapkan masyarakat wanita, betapa pun terampil dan peduli terhadap pasien, dapat memberi perubahan besar saat bekerja dalam suatu system yang diperburuk oleh transportasi yang buruk, dana yang kurang untuk kedaruratan, keamanan darah yang tidak adekuat, dan perujukan ke institusi yang masih buruk. Perawatan maternitas merupakan sebuah masalah system yang membutuhkan tingkat kesiapan dan kewaspadaan dan partisipasi aktif masyarakat.

Banyak negara melihat bahwa memindahkan kelahiran bayi ke dalam sebuah institusi merupakan jawaban terhadap masalah kematian ibu. Pengalaman menunjukkan bahwa tempat persalinan bukan merupakan factor kritis. Sasaran penting dari peningkatan hasil-akhir pada ibu ialah mencetak tenaga ahli pada tiap tingkap perawatan. Suatu perbedaan penting telah muncul, yang membedakan antara tenaga kesehatan yang terlatih (trained) dan terampil (skilled). Seorang tenaga kesehatan terlatih menjalani pelatihan bidan tradisional sedikitnya selama lima hari dan tidak berada pada posisi melakukan negosiasi dan menangani keadaan darurat.

Mereka yag disebut tenaga kesehatan terampil memiliki keterampilan kebidanan, baik bidan maupun bukan bidan. Pada konferensi peringatan sepuluh tahun Safe Motherhood Initiative, yang diselenggarakan di Sri Lanka, dinyatakan bahwa setiap tahun terjadi 75 juta kelahiran di seluruh dunia dan sebanyak 60 juta di antaranya berlangsung tanpa kehadiran seorang petugas persalinan terampil.

Tindakan tunggal yang paling kritis untuk dilakukan adalah memastikan bahwa seorang pekerja kesehatan yang memiliki keterampilan kebidanan hadir pada setiap kelahiran, dan terdapat transportasi untuk berjaga-jaga bila muncul keadaan darurat. Pekerja kesehatan dalam jumlah cukup harus mendapat pelatihan dan dibekali dengan persediaan dan perlengkapan yang sangat diperlukan, khususnya pada masyarakat miskin dan masyarakat desa [Family Care International. The Safe Motherhood Action Agenda: Priorities for the Next Decade, New York: FCI, 1998].

Jelasnya, kehadiran seorang tenaga kesehatan terampil, kendati penting, tidaklah cukup untuk menyelamatkan kehidupan wanita. Tenaga kesehatan bekerja dalam tim yang memiliki keterampilan pelengkap dan membutuhkan persediaan dan perlengkapan yang sangat dibutuhkan. Dengan lingkungan yang mendukung, tenaga kesehatan dapat memberi perawatan kesehatan yang aman dan berkualitas tinggi di mana pun: di rumah, klinik bersalin, pusat persalinan, pos kesehatan, rumah sakit daerah, atau rumah sakit rujukan. Masukan pada setiap tingkat perawatan memainkan peran yang sangat penting dalam menyediakan pelayanan obstetric dalam keadaan darurat, jika dibutuhkan.

 

Tingkat Perawatan Obstetri

Fasilitas Perawatan Obstetri Darurat Komprehensif: 1 per 500.000 orang

Tenaga Perawatan di Rumah Sakit Daerah

Melakukan pembedahan dengan anesthesia umum

Melakukan pembersihan dengan bantuan (seperti dilatasi dan kuretase) terhadap bagian plasenta yang tertinggal

Melakukan pembersihan manual plasenta yang tertinggal

Memimpin persalinan pervaginam dengan bantuan (seperti persalinan dengan ekstraksi vakum atau forsep)

Menyelenggarakan penggantian darah yang aman

Memberi antibiotic parenteral (IV atau IM)

Memberi sedative parenteral (IV atau IM)

Memberi oksitosin parenteral (IV atau IM)

Dokter, bidan, staf paramedic dan staf pendukung

Fasilitas Perawatan Obstetri Darurat Dasar: 4 per 500.000 orang

Pusat Kesehatan

Melakukan pembersihan manual terhadap plasenta/bagian plasenta yang tertinggal

Memimpin persalinan pervaginam dengan bantuan (seperti ekstraksi vakum)

Memberi antibiotic, sedative (seperti Valium, magnesium sulfat), dan oksitosin (ergometrin, Pitocin) IM atau IV, dan cairan IV

Dokter dan/atau bidan, staf paramedic dan pendukung

Pertolongan Pertama Obstetri dalam Masyarakat

Tingkat Daerah/Masyarakat

Pemijatan uterin/titik tekan

Mampu memberi oksitoksik sublingual/nasal/IM (ergometrin)

Memberi garam rehidrasi oral

Tenaga kesehatan junior, penolong persalinan tradisional, tetua daerah, kelompok wanita, pekerja masyarakat, keluarga

Sumber: Ross, S. R. Promoting Quality Maternal and Newborn Care: A Reference Manual for Program Managers. Washington, DC, Cooperative for Assistance and Relief Everywhere (CARE), 1998, p. 5.55

Rabu, 20 Agustus 2014

. MITRA KERJA GLOBAL DALAM PROMOSI KESEHATAN WANITA DAN KELUARGA USIA SUBUR

1. International Confederation of Midwives

Konfederasi Bidan Internasional (International Confederation of Midwives, ICM) adalah federasi asosiasi kebidanan sedunia, yang berfungsi sebagai kesatuan yang mandiri atau sebagai kelompok otonomi dalam organisasi lain, mis., kelompok perawat atau dokter. Semua asosiasi kebidanan ini memilih untuk bergabung bersama untuk meningkatkan dan memperkuat kebidanan dalam upaya mencapai kesehatan wanita dan keluarga usia subur di seluruh dunia. ICM adalah organisasi satu-satunya yang terdiri atas asosiasi kebidanan, yang secara formal diakui oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai sebuah organisasi non-pemerintah (NGO). ICM menerima akreditasi pertamanya dari PBB pada awal tahun 1960-an. Misi resmi ICM, seperti yang dinyatakan pada tahun 1993, adalah “mengembangkan tujuan dan aspirasi bidan di seluruh dunia untuk mendapatkan hasil-akhir yang lebih baik bagi wanita selama masa usia subur mereka, bagi bayi baru lahir, dan keluarga mereka di manapun mereka berada” [International Confederation of Midwives. Mission Statement 1993. London: ICM]. Dari awal yang sederhana pada awal tahun 1900-an, pada tahun 2002 ICM beranggotakan lebih dari 80 asosiasi kebidanan yang berasal dari lebih dari 70 negara, yang mewakili sekitar 500.000 bidan di seluruh dunia [International Confederation of Midwives. Personal correspondence from ICM headquarters on member data, August 2002].

a. Sejarah

Bidan dan praktik kebidanan telah bertahan hidup selama bertahun-tahun tanpa pendidikan, peraturan, dan standar praktik kebidanan yang formal, atau tanpa pengembangan suatu struktur organisasi pada tingkat local, nasional, ataupun internasional. Kebidanan adalah, dan akan terus menjadi, sebuah pelayanan kesehatan yang sangat vital untuk para wanita selama waktu yang paling rentan dalan kehidupan mereka – yakni ketika mereka mengandung dan membesarkan anak-anak. Namun, hingga awal abad ke-20, hanya beberapa negara (di antaranya Finlandia, Prancis, Jerman, Belanda, dan Swedia) telah memiliki program pendidikan yang canggih bagi para bidan dan mengatur praktik kebidanan. Sebagian besar negara lain “puas dengan menyerahkan proses perawatan persalinan kepada pelaksana tradisional yang keterampilannya diwariskan dari generasi ke generasi melalui beberapa bentuk kerja” [International Confederation of Midwives. Milestones in International Midwifery. London: ICM, 1994].

Pada akhir abad ke-19, negara-negara industry semakin menaruh perhatian pada angka kematian wanita dan anak-anak yang tinggi serta kesehatan mereka yang umumnya buruk. Pembuat kebijakan, politikus, dan pejabat kesehatan masyarakat berupaya keras mencari cara untuk meningkatkan kesehatan wanita dan bayi, kendati untuk berbagai alasan (termasuk di dalamnya harapan untuk menggalang kekuatan kerja yang cerdas, merekrut pasuka yang sehat, dsb.) yang sering kali tidak mengesampingkan pentingnya wanita melampaui kapasitasnya sebagai makhluk hidup yang bereproduksi. Pada saat yang sama, ketika kesadaran terhadap status kesehatan wanita usia subur yang buruk banyak dibicarakan, banyak bidan menyadari bahwa mereka harus meningkatkan standar pendidikan dan kondisi pekerjaan mereka jika mereka ingin bertahan dalam system perawatan kesehatan dan perawatan penyakit yang terus berkembang. Kebidanan Eropa merupakan kebidanan yang terkuat dan terus berjuang pada abad ke-20. Landasan ICM kemudian mengakar pada kebidanan Eropa di awal tahun 1900-an. Di belahan dunia lain, para bidan menemukan bahwa praktik kebidanan mereka dibatasi hanya pada kelompok pendatang di antara mereka sendiri. Dengan kata lain, mereka tersingkir akibat peningkatan jumlah dokter yang pesat dan tajamnya perjuangan dokter untuk memperoleh pengakuan dengan cara meremehkan pentingnya peran bidan dalam perawatan wanita usia subur [International Confederation of Midwives. Milestones in International Midwifery. London: ICM, 1994].

Beberapa hal mengancam praktik kebidanan tradisional di banyak negara, di antaranya institusionalisasi cepat untuk melahirkan setelah Perang Dunia I, penurunan drastic angka persalinan, dan jumlah dokter yang terus meningkat. Kebutuhan untuk bekerja sama lewat lingkaran nasional dan budaya sangat mendesak sehingga kebidanan Eropa kemudian membentuk Persatuan Bidan Internasional (International Midwives Union, IMU) pada tahun 1919. Pertemuan setiap dua sampai tiga tahun di Eropa, para anggota IMU memperdebatkan isu yang selalu muncul, seperti: tempat persalinan, pengembangan peran kebidanan tradisional melampaui perawatan usia subur, metode peredaan nyeri yang aman bagi wanita, dan cara meningkatkan standar pendidikan dan praktik kebidanan, dan kondisi kerja bagi bidan. Perang mengganggu pertemuan IMU, dan banyak catatan penting hilan selama Perang Dunia II [International Confederation of Midwives. A Birthday for Midwives: Seventy-five Years of International Collaboration, 1919-1994. London: ICM, 1994]. Pada tahun 1954, International Confederation of Midwives “yang terlahir kembali”, yang bermarkas di London (sampai tahun 2000), menjangkau hingga ke Eropa. Bidan di seluruh dunia mulai menyadari pentingnya berbagi informasi dan bekerja sama untuk meningkatkan kondisi wanita dan keluarga usia subur sembari memperkuat profesi kebidanan [International Confederation of Midwives. Milestones in International Midwifery. London: ICM, 1994].

b. Tujuan dan Sasaran

Sasaran utama ICM ialah “memperbaiki standar perawatan yang diberikan kepada ibu dan bayi mereka di seluruh negara, jika diperlukan, mendukung dan menyarankan asosiasi bidan yang bekerja sama dengan pemerintah mereka; meningkatkan penyediaan perawatan maternitas; dan mengembangkan penyediaan perawatan praktisi professional dengan haknya sendiri” [International Confederation of Midwives. Constitution and Byelaws (revised). Adopted by ICM Council in Manila, 1999]. ICM juga memperkenalkan kebidanan kepada badan dan lembaga internasional, lewat pertemuan atau konsultasi, atau lewat hubungan langsung dengan kepala atau badan yang mengatur organisasi tersebut. Semua aktivitas ICM ditujukan pada hanya satu tujuan: mengupayakan penurunan angka kematian dan kesakitan ibu dan bayi baru lahir [International Confederation of Midwives. A Birthday for Midwives: Seventy-five Years of International Collaboration, 1919-1994. London: ICM, 1994; and International Confederation of Midwives. Constitution and Byelaws (revised). Adopted by ICM Council in Manila, 1999] juga meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan remaja puteri dan wanita sepanjang rentang hidupnya.

. MITRA KERJA GLOBAL DALAM PROMOSI KESEHATAN WANITA DAN KELUARGA USIA SUBUR

1. International Confederation of Midwives

Konfederasi Bidan Internasional (International Confederation of Midwives, ICM) adalah federasi asosiasi kebidanan sedunia, yang berfungsi sebagai kesatuan yang mandiri atau sebagai kelompok otonomi dalam organisasi lain, mis., kelompok perawat atau dokter. Semua asosiasi kebidanan ini memilih untuk bergabung bersama untuk meningkatkan dan memperkuat kebidanan dalam upaya mencapai kesehatan wanita dan keluarga usia subur di seluruh dunia. ICM adalah organisasi satu-satunya yang terdiri atas asosiasi kebidanan, yang secara formal diakui oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai sebuah organisasi non-pemerintah (NGO). ICM menerima akreditasi pertamanya dari PBB pada awal tahun 1960-an. Misi resmi ICM, seperti yang dinyatakan pada tahun 1993, adalah “mengembangkan tujuan dan aspirasi bidan di seluruh dunia untuk mendapatkan hasil-akhir yang lebih baik bagi wanita selama masa usia subur mereka, bagi bayi baru lahir, dan keluarga mereka di manapun mereka berada” [International Confederation of Midwives. Mission Statement 1993. London: ICM]. Dari awal yang sederhana pada awal tahun 1900-an, pada tahun 2002 ICM beranggotakan lebih dari 80 asosiasi kebidanan yang berasal dari lebih dari 70 negara, yang mewakili sekitar 500.000 bidan di seluruh dunia [International Confederation of Midwives. Personal correspondence from ICM headquarters on member data, August 2002].

a. Sejarah

Bidan dan praktik kebidanan telah bertahan hidup selama bertahun-tahun tanpa pendidikan, peraturan, dan standar praktik kebidanan yang formal, atau tanpa pengembangan suatu struktur organisasi pada tingkat local, nasional, ataupun internasional. Kebidanan adalah, dan akan terus menjadi, sebuah pelayanan kesehatan yang sangat vital untuk para wanita selama waktu yang paling rentan dalan kehidupan mereka – yakni ketika mereka mengandung dan membesarkan anak-anak. Namun, hingga awal abad ke-20, hanya beberapa negara (di antaranya Finlandia, Prancis, Jerman, Belanda, dan Swedia) telah memiliki program pendidikan yang canggih bagi para bidan dan mengatur praktik kebidanan. Sebagian besar negara lain “puas dengan menyerahkan proses perawatan persalinan kepada pelaksana tradisional yang keterampilannya diwariskan dari generasi ke generasi melalui beberapa bentuk kerja” [International Confederation of Midwives. Milestones in International Midwifery. London: ICM, 1994].

Pada akhir abad ke-19, negara-negara industry semakin menaruh perhatian pada angka kematian wanita dan anak-anak yang tinggi serta kesehatan mereka yang umumnya buruk. Pembuat kebijakan, politikus, dan pejabat kesehatan masyarakat berupaya keras mencari cara untuk meningkatkan kesehatan wanita dan bayi, kendati untuk berbagai alasan (termasuk di dalamnya harapan untuk menggalang kekuatan kerja yang cerdas, merekrut pasuka yang sehat, dsb.) yang sering kali tidak mengesampingkan pentingnya wanita melampaui kapasitasnya sebagai makhluk hidup yang bereproduksi. Pada saat yang sama, ketika kesadaran terhadap status kesehatan wanita usia subur yang buruk banyak dibicarakan, banyak bidan menyadari bahwa mereka harus meningkatkan standar pendidikan dan kondisi pekerjaan mereka jika mereka ingin bertahan dalam system perawatan kesehatan dan perawatan penyakit yang terus berkembang. Kebidanan Eropa merupakan kebidanan yang terkuat dan terus berjuang pada abad ke-20. Landasan ICM kemudian mengakar pada kebidanan Eropa di awal tahun 1900-an. Di belahan dunia lain, para bidan menemukan bahwa praktik kebidanan mereka dibatasi hanya pada kelompok pendatang di antara mereka sendiri. Dengan kata lain, mereka tersingkir akibat peningkatan jumlah dokter yang pesat dan tajamnya perjuangan dokter untuk memperoleh pengakuan dengan cara meremehkan pentingnya peran bidan dalam perawatan wanita usia subur [International Confederation of Midwives. Milestones in International Midwifery. London: ICM, 1994].

Beberapa hal mengancam praktik kebidanan tradisional di banyak negara, di antaranya institusionalisasi cepat untuk melahirkan setelah Perang Dunia I, penurunan drastic angka persalinan, dan jumlah dokter yang terus meningkat. Kebutuhan untuk bekerja sama lewat lingkaran nasional dan budaya sangat mendesak sehingga kebidanan Eropa kemudian membentuk Persatuan Bidan Internasional (International Midwives Union, IMU) pada tahun 1919. Pertemuan setiap dua sampai tiga tahun di Eropa, para anggota IMU memperdebatkan isu yang selalu muncul, seperti: tempat persalinan, pengembangan peran kebidanan tradisional melampaui perawatan usia subur, metode peredaan nyeri yang aman bagi wanita, dan cara meningkatkan standar pendidikan dan praktik kebidanan, dan kondisi kerja bagi bidan. Perang mengganggu pertemuan IMU, dan banyak catatan penting hilan selama Perang Dunia II [International Confederation of Midwives. A Birthday for Midwives: Seventy-five Years of International Collaboration, 1919-1994. London: ICM, 1994]. Pada tahun 1954, International Confederation of Midwives “yang terlahir kembali”, yang bermarkas di London (sampai tahun 2000), menjangkau hingga ke Eropa. Bidan di seluruh dunia mulai menyadari pentingnya berbagi informasi dan bekerja sama untuk meningkatkan kondisi wanita dan keluarga usia subur sembari memperkuat profesi kebidanan [International Confederation of Midwives. Milestones in International Midwifery. London: ICM, 1994].

b. Tujuan dan Sasaran

Sasaran utama ICM ialah “memperbaiki standar perawatan yang diberikan kepada ibu dan bayi mereka di seluruh negara, jika diperlukan, mendukung dan menyarankan asosiasi bidan yang bekerja sama dengan pemerintah mereka; meningkatkan penyediaan perawatan maternitas; dan mengembangkan penyediaan perawatan praktisi professional dengan haknya sendiri” [International Confederation of Midwives. Constitution and Byelaws (revised). Adopted by ICM Council in Manila, 1999]. ICM juga memperkenalkan kebidanan kepada badan dan lembaga internasional, lewat pertemuan atau konsultasi, atau lewat hubungan langsung dengan kepala atau badan yang mengatur organisasi tersebut. Semua aktivitas ICM ditujukan pada hanya satu tujuan: mengupayakan penurunan angka kematian dan kesakitan ibu dan bayi baru lahir [International Confederation of Midwives. A Birthday for Midwives: Seventy-five Years of International Collaboration, 1919-1994. London: ICM, 1994; and International Confederation of Midwives. Constitution and Byelaws (revised). Adopted by ICM Council in Manila, 1999] juga meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan remaja puteri dan wanita sepanjang rentang hidupnya.

BAYI BARU LAHIR

Pasangan ibu/bayi baru lahir merupakan pasangan yang tidak terpisahkan. Peningkatan kesehatan ibu akan meningkatkan hasil-akhir yang diharapkan bagi bayi. Demikian juga, sangatlah penting meningkatkan kemampuan bayi untuk bertahan hidup supaya wanita tidak berisiko menjalani kehamilan berkali-kali. Dengan cara ini, dapat dipastikan anak-anak dapat mencapai masa dewasa dan mampu merawat orang tua mereka yang lansia. Kehamilan berulang berpengaruh sangat besar pada tubuh wanita sehingga meningkatkan risiko kematian sepanjang hidupnya, yang berkaitan dengan masa usia subur. Sekali lagi, intisari perawatan bayi baru lahir adalah sedikit menggunakan teknologi dan dewasa ini, sedapat mungkin diupayakan dengan penanganan alami.

 

Intisari Perawatan Bayi Baru Lahir

Perawatan Kehamilan yang Akan Datang

Perhatian Khusus

Meningkatkan kesehatan dan status wanita

Meningkatkan nutrisi remaja puteri

Menyarankan untuk tidak menikah pada usia dini

Peningkatan praktik hubungan seksual yang aman

Pemberian kesempatan untuk mendapatkan pendidikan kesehatan wanita

Perawatan Selama Kehamilan

Perhatian Khusus

Memperbaiki nutrisi wanita hamil

Melakukan imunisasi tetanus

Melakukan skrining dan mengatasi infeksi, terutama penyakit sifilis dan malaria

Meningkatkan komunikasi dan konseling: kesiapan persalinan, kewaspadaan terhadap tanda bahaya, dan pemberian ASI segera dan eksklusif

Pemantauan dan pengobatan komplikasi kehamilan, seperti: anemia, preeclampsia, dan perdarahan

Peningkatan kesadaran diri untuk mengikuti konseling dan uji HIV

Pengurangan risiko penularan HIV dari ibu ke anak

Perawatan pada Saat Persalinan

Perhatian Khusus

Memastikan ada perawatan terampil pada saat persalinan

Mengupayakan persalinan yang bersih, tangan yang bersih, pemotongan tali pusat yang bersih, mengikat dan membungkus tali pusat dengan bersih, serta pakaian bersih

Menjaga bayi tetap hangat; keringkan dan bungkus bayi secepatnya, termasuk pelindung kepala, atau menempatkan bayi pada ibu

Menganjurkan pemberian ASI eksklusif dan segera, sedikitnya dalam satu jam

Memberi perawatan mata profilaksis, jika diperlukan

Pengenalan tanda-tanda bahaya, baik pada ibu maupun bayi dan hindari menunda mencari perawatan dan rujukan

Pengenalan dan tindakan resusitasi bayi yang mengalami asfiksia dengan segera

Beri perhatian khusus terhadap kehangatan, pemberian makan, dan tindakan higienis pada bayi preterm dan bayi berat badan lahir rendah

Perawatan Setelah Persalinan

Perhatian Khusus

Memastikan kontak dengan tenaga kesehatan segera setelah persalinan

Meningkatkan pemberian ASI eksklusif berkelanjutan

Mempertahankan kebersihan untuk mencegah infeksi; memastikan perawatan tali pusat yang bersih dan memberi ibu konseling tentang praktik higienis, umum, mis., mencuci tangan

Menyediakan imunisasi seperti vaksin BCG, OPV, dan hepatitis B, sesuai kebutuhan

Pengenalan tanda-tanda bahaya pada ibu dan anak, terutama terhadap infeksi, dan hindari penundaan dalam mencari perawatan dan rujukan

Dukungan kepada ibu HIV positif untuk membuat pilihan yang tepat tentang dan mempertahankan pemberian ASI

Lanjutkan memberi perhatian khusus terhadap kehangatan, pemberian makan, dan praktik higienis bagi bayi berat lahir rendah

kesehatan segera setelah persalinan

Meningkatkan pemberian ASI eksklusif berkelanjutan

Mempertahankan kebersihan untuk mencegah infeksi; memastikan perawatan tali pusat yang bersih dan memberi ibu konseling tentang praktik higienis, umum, mis., mencuci tangan

Menyediakan imunisasi seperti vaksin BCG, OPV, dan hepatitis B, sesuai kebutuhan

dan anak, terutama terhadap infeksi, dan hindari penundaan dalam mencari perawatan dan rujukan

Dukungan kepada ibu HIV positif untuk membuat pilihan yang tepat tentang dan mempertahankan pemberian ASI

Lanjutkan memberi perhatian khusus terhadap kehangatan, pemberian makan, dan praktik higienis bagi bayi berat lahir rendah

Sumber: Costello, A. State of the World’s Newborns: A Report from Saving Newborn Lives. Washington, DC: Save the Children, 2001, p.9

Kurang lebih 8 juta kematian perinatal terjadi setiap tahun. Dari jumlah ini, sekitar 85% kematian baru lahir terjadi akibat infeksi, asfiksia saat lahir, dan cedera saat lahir [Costello, A. State of the World’s Newborns: A Report from Saving Newborn Lives. Washington, DC: Save the Children, 2001]. Lebih dari dua pertiganya terjadi pada bayi cukup bulan dengan ukuran sesuai. Semua kematian bayi ini pada gilirannya menciptakan lingkaran permasalahan: pengaturan jarak kelahiran yang buruk, fertilitas berlebihan, kematian janin berulang, dan kesakitan serta kematian ibu.

1. Situasi di Amerika Serikat

Bagi sebagian besar wanita di Amerika Serikat, melahirkan anak merupakan pengalaman yang relative normal dan masyarakat mengharapkan pengalaman persalinan yang sempurna, bayi yang sehat, dan ibu tidak terancam bahaya akibat pengalaman tersebut. Pada kenyataannya, sejak tahun 1990 sampai 1995, hampir 2000 wanita Amerika meninggal akibat kehamilan dan komplikasinya, bahkan dalam kondisi perawatan kesehatan yang mengalami kemajuan modern.

Sumber: National Center for Health Statistics, Centers for Disease Control and Prevention. Vital Statistics, 1998.

Menurut National Center for Health Statistics (NCHS), tidak ada kemajuan yang terlihat dalam upaya menurunkan angka kematian ibu sejak tahun 1982. Dua puluh negara lain memiliki angka kematian ibu yang lebih rendah daripada di Amerika Serikat. Pada tahun 1990, pemerintah pusat menetapkan suatu sasaran untuk menurunkan angka kematian ibu hingga 3,3 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2000. Baru tiga negara yang telah mencapai tujuan tersebut: Massachusetts, Nebraska, dan Washington. Delapan negara lain telah mampu mencapai angka kematian ibu kurang dari empat. Ini dengan jelas menunjukkan tiga hal, yaitu: terdapat angka kematian yang berlebihan, bahwa upaya penurunan dapat dicapai dan pencapaian tujuan ini akan menjadi hal yang sulit bagi negara lain. Health and Human Sevices Healthy People pada tahun 2010 menetapkan kematian ibu untuk mencapai angka 3,3 per 100.000 kelahiran hidup. Focus khusus tahun 2010 ialah mengurangi perbedaan rasial [U.S. Department of Health and Human Services. Tracking Healthy People 2010. Washington, DC: Government Printing Office, November 2000].

Pada awal abad ke-20, angka kematian untuk wanita kulit hitam dua kali lipat daripada wanita kulit putih. Saat ini, perbedaan rasial tersebut meningkat: angka kematian wanita kulit hitam 4,5 kali angka kematian wanita kulit putih dan 1,6 angka kematian wanita Hispanik. Selain kematian yang sebagian besar dapat dicegah, banyak wanita (kurang lebih 25%) mengalami komplikasi kehamilan dan persalinan yang signifikan, antara lain: infeksi, perdarahan, hipertensi, depresi, dan inkontinensia urine.

Dalam suatu studi yang dilakukan oleh negara tentang rasio angka kematian-terkait kehamilan antara tahun 1991-1997, rasio kematian ibu secara keseluruhan adalah 7,31. Namun, rasio bagi wanita hispanik 10,3 kali wanita kulit putih; rasio bagi wanita Asia/Pulau Pasifik ialah 11,3 kali; bagi wanita Amerika Indian/Asli Alaska ialah 12,2 kali; dan bagi wanita kulit hitam ialah 29,6 kali wanita kulit putih [Centers for Disease Control and Prevention: CDC report highlights selected racial and ethnic pregnancy-related death rates. Morbidity and Mortality Weekly Report. www.cdc.gov. May 11, 2001].

Sumber: National Center for Health Statistics, Center for Disease Control and Prevention. Vital Statistics, 1998

Selama kerangka waktu ini, 3193 wanita meninggal selama kehamilan atau dalam jangka waktu satu tahun setelah kehamilan berakhir. Beberapa negara maju sekarang bergerak ke arah penggunaan Pregnancy Related Mortality Rate (PRMR). Ini dikarenakan anggapan bahwa dengan menggunakan teknologi terkini, beberapa wanita yang akan menjelang kematian setelah 42 hari melahirkan. Sedangkan, mereka akan meninggal lebih awal tanpa penggunaan teknologi tersebut [Centers for Disease Control and Prevention: CDC report highlights selected racial and ethnic pregnancy-related death rates. Morbidity and Mortality Weekly Report. www.cdc.gov. May 11, 2001]. PRMR dapat menangkap semua kehamilan yang berkaitan dengan kematian, yang biasanya terjadi 42 hari pascapartum.

Ras dan etnik tidak dipertimbangkan sebagai factor risiko kematian ibu, melainkan lebih sebagai indicator kurangnya lingkungan pendukung dalam area ekonomi, akses ke system kesehatan, dan kurangnya kualitas perawatan.

Pelaporan yang akurat tentang kematian ibu merupakan suatu permasalah di Amerika Serikat sebagaimana di berbagai negara lain di dunia. Kematian yang tidak dilaporkan akibat kesalahan klasifikasi diperkirakan mencapai 1,3 sampai 3,0 kali jumlah kematian yang dilaporkan lewat statistic vital. Dengan demikian, 3086 kematian yang terjadi antara tahun 1987 dan 1996 mendekati angka 9300.

BAYI BARU LAHIR

Pasangan ibu/bayi baru lahir merupakan pasangan yang tidak terpisahkan. Peningkatan kesehatan ibu akan meningkatkan hasil-akhir yang diharapkan bagi bayi. Demikian juga, sangatlah penting meningkatkan kemampuan bayi untuk bertahan hidup supaya wanita tidak berisiko menjalani kehamilan berkali-kali. Dengan cara ini, dapat dipastikan anak-anak dapat mencapai masa dewasa dan mampu merawat orang tua mereka yang lansia. Kehamilan berulang berpengaruh sangat besar pada tubuh wanita sehingga meningkatkan risiko kematian sepanjang hidupnya, yang berkaitan dengan masa usia subur. Sekali lagi, intisari perawatan bayi baru lahir adalah sedikit menggunakan teknologi dan dewasa ini, sedapat mungkin diupayakan dengan penanganan alami.

 

Intisari Perawatan Bayi Baru Lahir

Perawatan Kehamilan yang Akan Datang

Perhatian Khusus

Meningkatkan kesehatan dan status wanita

Meningkatkan nutrisi remaja puteri

Menyarankan untuk tidak menikah pada usia dini

Peningkatan praktik hubungan seksual yang aman

Pemberian kesempatan untuk mendapatkan pendidikan kesehatan wanita

Perawatan Selama Kehamilan

Perhatian Khusus

Memperbaiki nutrisi wanita hamil

Melakukan imunisasi tetanus

Melakukan skrining dan mengatasi infeksi, terutama penyakit sifilis dan malaria

Meningkatkan komunikasi dan konseling: kesiapan persalinan, kewaspadaan terhadap tanda bahaya, dan pemberian ASI segera dan eksklusif

Pemantauan dan pengobatan komplikasi kehamilan, seperti: anemia, preeclampsia, dan perdarahan

Peningkatan kesadaran diri untuk mengikuti konseling dan uji HIV

Pengurangan risiko penularan HIV dari ibu ke anak

Perawatan pada Saat Persalinan

Perhatian Khusus

Memastikan ada perawatan terampil pada saat persalinan

Mengupayakan persalinan yang bersih, tangan yang bersih, pemotongan tali pusat yang bersih, mengikat dan membungkus tali pusat dengan bersih, serta pakaian bersih

Menjaga bayi tetap hangat; keringkan dan bungkus bayi secepatnya, termasuk pelindung kepala, atau menempatkan bayi pada ibu

Menganjurkan pemberian ASI eksklusif dan segera, sedikitnya dalam satu jam

Memberi perawatan mata profilaksis, jika diperlukan

Pengenalan tanda-tanda bahaya, baik pada ibu maupun bayi dan hindari menunda mencari perawatan dan rujukan

Pengenalan dan tindakan resusitasi bayi yang mengalami asfiksia dengan segera

Beri perhatian khusus terhadap kehangatan, pemberian makan, dan tindakan higienis pada bayi preterm dan bayi berat badan lahir rendah

Perawatan Setelah Persalinan

Perhatian Khusus

Memastikan kontak dengan tenaga kesehatan segera setelah persalinan

Meningkatkan pemberian ASI eksklusif berkelanjutan

Mempertahankan kebersihan untuk mencegah infeksi; memastikan perawatan tali pusat yang bersih dan memberi ibu konseling tentang praktik higienis, umum, mis., mencuci tangan

Menyediakan imunisasi seperti vaksin BCG, OPV, dan hepatitis B, sesuai kebutuhan

Pengenalan tanda-tanda bahaya pada ibu dan anak, terutama terhadap infeksi, dan hindari penundaan dalam mencari perawatan dan rujukan

Dukungan kepada ibu HIV positif untuk membuat pilihan yang tepat tentang dan mempertahankan pemberian ASI

Lanjutkan memberi perhatian khusus terhadap kehangatan, pemberian makan, dan praktik higienis bagi bayi berat lahir rendah

kesehatan segera setelah persalinan

Meningkatkan pemberian ASI eksklusif berkelanjutan

Mempertahankan kebersihan untuk mencegah infeksi; memastikan perawatan tali pusat yang bersih dan memberi ibu konseling tentang praktik higienis, umum, mis., mencuci tangan

Menyediakan imunisasi seperti vaksin BCG, OPV, dan hepatitis B, sesuai kebutuhan

dan anak, terutama terhadap infeksi, dan hindari penundaan dalam mencari perawatan dan rujukan

Dukungan kepada ibu HIV positif untuk membuat pilihan yang tepat tentang dan mempertahankan pemberian ASI

Lanjutkan memberi perhatian khusus terhadap kehangatan, pemberian makan, dan praktik higienis bagi bayi berat lahir rendah

Sumber: Costello, A. State of the World’s Newborns: A Report from Saving Newborn Lives. Washington, DC: Save the Children, 2001, p.9

Kurang lebih 8 juta kematian perinatal terjadi setiap tahun. Dari jumlah ini, sekitar 85% kematian baru lahir terjadi akibat infeksi, asfiksia saat lahir, dan cedera saat lahir [Costello, A. State of the World’s Newborns: A Report from Saving Newborn Lives. Washington, DC: Save the Children, 2001]. Lebih dari dua pertiganya terjadi pada bayi cukup bulan dengan ukuran sesuai. Semua kematian bayi ini pada gilirannya menciptakan lingkaran permasalahan: pengaturan jarak kelahiran yang buruk, fertilitas berlebihan, kematian janin berulang, dan kesakitan serta kematian ibu.

1. Situasi di Amerika Serikat

Bagi sebagian besar wanita di Amerika Serikat, melahirkan anak merupakan pengalaman yang relative normal dan masyarakat mengharapkan pengalaman persalinan yang sempurna, bayi yang sehat, dan ibu tidak terancam bahaya akibat pengalaman tersebut. Pada kenyataannya, sejak tahun 1990 sampai 1995, hampir 2000 wanita Amerika meninggal akibat kehamilan dan komplikasinya, bahkan dalam kondisi perawatan kesehatan yang mengalami kemajuan modern.

Sumber: National Center for Health Statistics, Centers for Disease Control and Prevention. Vital Statistics, 1998.

Menurut National Center for Health Statistics (NCHS), tidak ada kemajuan yang terlihat dalam upaya menurunkan angka kematian ibu sejak tahun 1982. Dua puluh negara lain memiliki angka kematian ibu yang lebih rendah daripada di Amerika Serikat. Pada tahun 1990, pemerintah pusat menetapkan suatu sasaran untuk menurunkan angka kematian ibu hingga 3,3 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2000. Baru tiga negara yang telah mencapai tujuan tersebut: Massachusetts, Nebraska, dan Washington. Delapan negara lain telah mampu mencapai angka kematian ibu kurang dari empat. Ini dengan jelas menunjukkan tiga hal, yaitu: terdapat angka kematian yang berlebihan, bahwa upaya penurunan dapat dicapai dan pencapaian tujuan ini akan menjadi hal yang sulit bagi negara lain. Health and Human Sevices Healthy People pada tahun 2010 menetapkan kematian ibu untuk mencapai angka 3,3 per 100.000 kelahiran hidup. Focus khusus tahun 2010 ialah mengurangi perbedaan rasial [U.S. Department of Health and Human Services. Tracking Healthy People 2010. Washington, DC: Government Printing Office, November 2000].

Pada awal abad ke-20, angka kematian untuk wanita kulit hitam dua kali lipat daripada wanita kulit putih. Saat ini, perbedaan rasial tersebut meningkat: angka kematian wanita kulit hitam 4,5 kali angka kematian wanita kulit putih dan 1,6 angka kematian wanita Hispanik. Selain kematian yang sebagian besar dapat dicegah, banyak wanita (kurang lebih 25%) mengalami komplikasi kehamilan dan persalinan yang signifikan, antara lain: infeksi, perdarahan, hipertensi, depresi, dan inkontinensia urine.

Dalam suatu studi yang dilakukan oleh negara tentang rasio angka kematian-terkait kehamilan antara tahun 1991-1997, rasio kematian ibu secara keseluruhan adalah 7,31. Namun, rasio bagi wanita hispanik 10,3 kali wanita kulit putih; rasio bagi wanita Asia/Pulau Pasifik ialah 11,3 kali; bagi wanita Amerika Indian/Asli Alaska ialah 12,2 kali; dan bagi wanita kulit hitam ialah 29,6 kali wanita kulit putih [Centers for Disease Control and Prevention: CDC report highlights selected racial and ethnic pregnancy-related death rates. Morbidity and Mortality Weekly Report. www.cdc.gov. May 11, 2001].

Sumber: National Center for Health Statistics, Center for Disease Control and Prevention. Vital Statistics, 1998

Selama kerangka waktu ini, 3193 wanita meninggal selama kehamilan atau dalam jangka waktu satu tahun setelah kehamilan berakhir. Beberapa negara maju sekarang bergerak ke arah penggunaan Pregnancy Related Mortality Rate (PRMR). Ini dikarenakan anggapan bahwa dengan menggunakan teknologi terkini, beberapa wanita yang akan menjelang kematian setelah 42 hari melahirkan. Sedangkan, mereka akan meninggal lebih awal tanpa penggunaan teknologi tersebut [Centers for Disease Control and Prevention: CDC report highlights selected racial and ethnic pregnancy-related death rates. Morbidity and Mortality Weekly Report. www.cdc.gov. May 11, 2001]. PRMR dapat menangkap semua kehamilan yang berkaitan dengan kematian, yang biasanya terjadi 42 hari pascapartum.

Ras dan etnik tidak dipertimbangkan sebagai factor risiko kematian ibu, melainkan lebih sebagai indicator kurangnya lingkungan pendukung dalam area ekonomi, akses ke system kesehatan, dan kurangnya kualitas perawatan.

Pelaporan yang akurat tentang kematian ibu merupakan suatu permasalah di Amerika Serikat sebagaimana di berbagai negara lain di dunia. Kematian yang tidak dilaporkan akibat kesalahan klasifikasi diperkirakan mencapai 1,3 sampai 3,0 kali jumlah kematian yang dilaporkan lewat statistic vital. Dengan demikian, 3086 kematian yang terjadi antara tahun 1987 dan 1996 mendekati angka 9300.

SITUASI DI SELURUH DUNIA

Setiap menit, setiap hari, di mana pun di dunia, seorang ibu meninggal dunia akibat komplikasi yang muncul selama masa hamil dan persalinan. Sebagian besar kematian ini tidak dapat dihindari [WHO, UNFPA, UNICEF, and World Bank. Reduction of Maternal Mortality: A Joint WHO/UNFPA/UNICEF/World Bank Statement. Geneva: WHO, 1999, p.2]

Sejak tahun 1982, Organsasi Kesehatan Dunia (WHO) telah meninjau secara sistematis indeks literature medis, publikasi tanpa-indeks, dan laporan dari pejabat nasional dan local mengenai angka kematian ibu dan perawatan maternitas di seluruh dunia. Perkiraan terbaik yang dilakukan WHO pada tahun 1987 menunjukkan bahwa terdapat kelebihan, sebesar 500.000 kematian-terkait kehamilan setiap tahun, sebagian besar kematian dapat dicegah [WHO, UNFPA, UNICEF, and World Bank. Reduction of Maternal Mortality: A Joint WHO/UNFPA/UNICEF/World Bank Statement. Geneva: WHO, 1999, p.2]. analisis data selanjutnya menunjukkan bahwa jumlah kematian ibu mendekati angka 585.000 per tahun [World Health Organization. Revised 1990 Estimates of Maternal Mortality: A New Approach by WHO and UNICEF. Geneva: WHO, April 1996]. Dari jumlah mendekati 600.000 ini, lebih dari setengahnya datang dari hanya delapan negara, yaitu Bangladesh, Ethiopia, India, Indonesia, Nepal, Nigeria, Pakistan, dan Uganda. Di Nepal setiap lima menit ada ibu yang meninggal. Sedangkan di Nigeria setiap 10 menit.

Setiap menit di seluruh dunia
380 wanita mengalami kehamilan
190 wanita menghadapi kehamilan tidak direncanakan dan tidak diinginkan
110 wanita mengalami komplikasi-terkait kehamilan
40 wanita mengalami aborsi yang tidak aman
1 wanita meninggal

White Ribbon Alliance for safe motherhood. Awareness, Mobilization, and Action for Safe Motherhood: A Field Guide. Washington, DC: Networks for Health, 2000.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Safe Motherhood Initiative diluncurkan pada tahun 1987 di Nairobi, Kenya. Pertemuan ini bertujuan meningkatkan kewaspadaan, menyiagakan masyarakat internasional terhadap tragedy laten, dan memobilisasi upaya dan sumber-sumber untuk kepentingan ibu. Pada World Summit for Chlidren yang diselenggarakan pada tahun 1990, 166 negara bergabung untuk mencapai sasaran rencana tindakan. Salah satunya ialah mengurangi kematian ibu hingga 50% pada tahun 2000 [Ross, S. R. Promoting Quality Maternal and Newborn Care: A Reference Manual for Program Managers. Washington, DC: Cooperative for Assistance and Relief Everywhere (CARE), 1998]. Pada bulan September 2000, para negara anggota PBB mengadopsi Millenium Development Declaration yang memberi penekanan pada kesehatan ibu serta kehamilan dan persalinan yang aman dalam perkembangan di setiap negara. Sasarannya ialah mengurangi angka kematian ibu sebesar 75% antara tahun 1990 dan 2015. Indicator keberhasilan pencapaian sasaran ini ialah proporsi kelahiran yang ditolong oleh tenaga terampil [Family Care International. Skilled Care During Childbirth: Policy Brief. New York: FCI, 2002].

Angka kematian, kendati sulit diperoleh, merupakan indicator yang sensitive untuk mengetahui tingkat kesehatan ibu. Walaupun demikian, dalam mempertimbangkan kematian ibu, sangat penting untuk tidak mengabaikan rentang masalah kesehatan yang lebih luas, yang berkaitan dengan kehamilan, antara lain trauma ibu, penyakit kronis, dan penurunan keluaran energy. Factor-faktor ini memiliki konsekuensi bagi keluarga dan ekonomi. Kematian ibu hanyalah cerminan puncak kecil gunung permasalahan kesehatan ibu. Jalan menuju kematian ibu dan ketidakmampuan bagi banyak wanita dimulai pada saat mereka dilahirkan sebagai wanita. Di sisi lain, angka kesakitan bahkan lebih sulit untuk dijelaskan dan diukur. Banyak wanita tidak pernag memasuki system perawatan kesehatan selama hamil, bahkan bila mereka sakit parah. Hal ini membuat pencararan data kematian atau ketidakmampuan mereka dalam data statistic atau laporan lain sulit dilakukan.

Banyak sekali hal yang memberi kontribusi kematian ibu di negara-negara berkembang. Antara lain, perawatan yang tidak tepat hingga persediaan yang kurang, transportasi ke pusat rujukan, kemampuan melakukan pembedahan, bank darah, dan uang untuk digunakan membiayai perawatan yang tersedia. Semua factor ini dikategorikan sebagai “lingkungan yang memampukan atau system perawatan” sebagai pakem yang membedakannya dari seseorang yang menyediakan perawatan kesehatan yang dibutuhkan [Family Care International. Saving Lives: Skilled Attendance at Childbirth. Background paper. New York: FCI, in collaboration with Safe Motherhood Inter-Agency Group, 2001].

Factor-faktor budaya yang membatasi akses ke pusat pelayanan kesehatan cenderung kurang dikenal dan tidak didokumentasi dengan baik. Factor-faktor, seperti penyembuhan secara spiritual, penggunaan jamu-jamuan local, obat-obatan dijual bebas, serta praktik tradisional yang mengklaim mereka memberi jasa secara cuma-cuma, pada suatu waktu akan menimbulkan banyak kerumitan dalam mendapatkan perawatan kesehatan yang tepat. Apabila suatu penyakit diyakini disebabkan oleh ilmu hitam atau kurang keyakinan, maka pelayanan medis ortodok yang didasarkan pada teori tentang kuman bukanlah alternative penyelesaian yang tepat. Factor-faktor budaya juga mencakup norma-norma yang memang sudah ada dalam masyarakat. Norma-norma ini memberi kejelasan tentang status wanita. Sebagai konsekuensinya, keputusan wanita untuk mencari perawatan tepat waktu akan dipengaruhi oleh norma yang berlaku dalam masyarakat.

Isu tentang kualitas dan kemudahan memasuki perawatan kesehatan harus dikupas sebagai upaya menghadapi masalah tentang kematian dan kesakitan ibu. Isu-isu tersebut harus dianalisis dengan memperhatikan kerangka tiga jenis keterlambatan [Thaddeus, S., and Maine, D. Too Far to Walk: Maternal Mortality in Context.Columbia University, May 1990]:

1. Keterlambatan dalam mengenali bahwa ada suatu masalah

2. Keterlambatan dalam mencapai tingkat perawatan yang tepat begitu masalah/komplikasi dikenali

3. Keterlambatan dalam menerima perawatan yang tepat setelah tiba di tempat pelayanan kesehatan.